Refleksi Harian Epiphany – Halaman ke-54 dari 365 halaman dalam tahun.

“Jangan mengandalkan kekayaanmu, dan jangan berkata: ‘Ini cukup bagiku.'” Sir 5:1

Pagi ini saya baru saja mendapat berita mengejutkan. Sewaktu sedang sarapan di salah satu restaurant favoriteku di kota kelahiran. Restaurantnya memang tak menarik saat dilihat dari luar, tapi didalam ramai luar biasa. Apalagi karena ada banyak makanan yg enak. Jadi walau penuh asap rokok dan rada jorok, orang2 tetap ngantri makan. Tapi pagi itu, Oom yg saya kenal sejak kecil, yang biasa di kasir tidak ada.

Saat bertanya pada ortu saya, ternyata si Oom sudah meninggal. Saat gempa besar sekitar 8 tahun yg lalu di Indonesia. Rumah si Oom ikut hancur. Para penjarah yg melihat hal tsb mengambil kesempatan dgn mengambil semua harta si Oom: emas,
perak, perhiasan, uang dollar, tabungan kas, dan lain lain. Si Oom dgn panik berusaha menghalang2i, tapi bagaimana ia bisa menahan masa yg begitu banyak?

Oom gak kuat melihat hartanya ludes dalam sekejap. Tak lama ia terkena stroke, pembuluh darahnya pecah, dan ia meninggal. Istrinya yg tertinggal akhirnya berjuang sendiri, mengelola bisnis restaurant yg ditinggal oleh suaminya.

Pesan halaman 54 hari ini sebenarnya cukup sederhana. Apakah anda dan saya sudah mengandal Dia dgn sepenuh hati? Atau jangan2 selama ini kita hanya sekedar memberi “lip service” pada Tuhan: dgn mengatakan percaya pada Dia cuma sampai dimulut, namun dalam hati bertolak belakang. Spt si Oom, sebenarnya ia merasa “aman” krn adanya dana2 cadangan di brankas. Dana2 itulah yg menjadi pegangan dia. Tp uang hanya akan dapat memberi perasaan aman yg palsu (false sense of security). Isi hati seseorang akan baru terlihat jelas apabila sedang terjadi krisis. Bukan saat situasi damai. Saat dana cadangan hilang, si Oom tak dapat menerimanya, ia kehilangan pegangan.

Semoga di halaman 54 ini, kehidupan keagamaan kita tidak cuma hanya sebatas teori saja, namun benar2 kita jalankan dgn hati. Mengandalkan Tuhan disetiap waktu. Seperti yang Ayub katakan: Tuhan yg memberi, maka Tuhan jg yg mampu mengambil. Bagian kita adalah utk terus memuji, bersyukur dan mengandalkan Dia (Ayub 1:21)

%d bloggers like this: