APAKAH KITA MENGAKUI YESUS SEBAGAI ANAK ALLAH?

Refleksi Harian Epiphany. Halaman ke-97 dari 365 halaman dalam tahun (Jumat Pertama dan Hari Pantang)

Bacaan Injil Yohanes 10:31-42

 

Dalam injil Yohanes itu dikatakan bahwa orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu karena mereka menganggap Yesus menghujat Allah, dengan menyamakan diri-Nya dengan Allah, menurut mereka Yesus hanyalah seorang manusia.

Orang Yahudi kala itu sebenarnya sudah melihat apa yang Yesus perbuat dengan kuasa Allah, mencelikkan orang buta, menyembuhkan orang lumpuh, orang bisu tuli, bahkan menghidupkan orang yang sudah mati, tapi hati mereka tertutup untuk mengakui bahwa Yesus adalah sang Mesias, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia.

Pintu Keselamatan

Dalam bab yg sama Yesus menyamakan dirinya seperti gembala yg baik, lebih lanjut dikatakan-Nya pula: “Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput” (Yoh 10:9).

Sayangnya kita walaupun sudah tahu bahwa Yesus lah pintu yang menyelamatkan, tapi sebagai domba kita tidak percaya (seperti orang Yahudi yg tidak percaya), kita hanya mengamat-amati tapi tidak mau jalan melewati pintu itu.

Contohnya, saya pernah mendengar pengajaran dari pewarta di Sydney tentang kesaksian seorang pendosa. Pendosa ini punya kebiasaan yang tidak baik. Dia tidak bisa melepaskan diri dari perbuatan masturbasi. Setiap kali dia melakukan dia merasa bersalah dan minta teman-teman kelompok doa untuk mendoakannya. Tetapi setelah beberapa waktu dilakukannya lagi perbuatan itu.

 

Maukah kita diselamatkan?

Dengan tidak mau mati raga melawan nafsu kedagingan, sama seperti kita tau bahwa Yesus adalah pintu keselamatan tapi kita tidak mau melangkah meninggalkan kebiasaan buruk dan keluar melalui pintu itu untuk mendapatkan keselamatan. Ini sama halnya dengan orang Yahudi diatas, mereka melihat kuasa Allah bekerja melalui perbuatan Yesus, tapi hati mereka tertutup, tidak mengakui ke Allahan Yesus malah menghakimi Dia dan berusaha membunuhNya.

Halaman ke-97 di masa pra paskah ini, apakah kita masih setia mempersiapkan diri dengan pantang dan puasa? Melatih otot rohani kita untuk menyambut kemuliaan-Nya mengalahkan maut.

Mari para saudara kita saling mengingatkan bahwa kita semua milik Allah. Sudah sepantasnya kalau kita mengikuti petunjuk-Nya untuk hidup dalam roh dan kebenaran. Bersama-sama memasuki pintu menuju keselamatan kekal, sebab perjuangan mengalahkan nafsu dan bermati raga selama kita hidup , tidak akan sebanding dengan apa yg kita peroleh dikehidupan kekal nanti. Amin.

 

%d bloggers like this: