Melayani sesama

Refleksi Harian Epiphany. Halaman ke-88 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yoh 5:17)

 

Kehidupan Yesus lewat perkataan dan perbuatanNya menjadi cerminan seperti apa Bapa di surga (His life is the reflection of Father). Bagaimana dengan kita? Apakah pekerjaan dan kehadian kita sehari-hari di dalam keluarga, tempat kerja dan komunitas  mencerminkan siapa Tuhan yang kita sembah? Atau kita seperti orang farisi yang selalu berkeinginan untuk “membunuh” Yesus, yaitu dengan berpikir : kok nyembuhin di hari Sabat dan berani-beraninya ngaku anak Allah.. Apakah kita malah cemburu/tidak senang dengan orang lain yang hidupnya menjadi berkat bagi sesama (kita mikir ahh mereka cuma mau cari nama, popularitas, dan biar dipuja-puja) dan apakah kita suka menunda-nunda untuk berbuat baik karena berbagai alasan yang kita buat-buat (saya lagi sibuk, ntar juga ada yang orang lain yang nolongin dia lah, atau kita berpikir siapa suruh dia males makanya hidupnya susah, bla bla bla)

Membunuh yang saya maksudkan di sini bukan hanya sebatas fisik, tapi juga  mematikan potensi dan bersikap sinis pada perbuatan-perbuatan amal/kasih yang sesungguhnya itu adalah perwujudan nyata kehadiran Allah di tengah dunia lewat kita.

Seperti Yesus yang berkolaborasi dengan Bapa dan masih bekerja sampai sekarang ( teman-teman, ini adalah sebuah good news/kabar gembira bukan? Kalau Tuhan masih terus bekerja dalam segala hal di hidup kita.. oleh sebab itu kita bersorak sorai & Puji namaNya!), demikian juga sekarang Bapa mengajak kita anak-anakNya utk menjadi partnerNya dalam membagikan kasih kepada mereka yang membutuhkan di sekeliling kita supaya mereka juga bersorak sorai dan memuji kebesaran Tuhan.

Yesus melakukan kehendak Bapa, dan menjadi berkat kemanapun Dia melangkah.. demikian firman hari ini mengingatkan kita agar jangan sampai kita terjebak pada pekerjaan dan rutinitas kita yang hanya membawa kita pada kekosongan batin dan kelelahan fisik/mental namun sesungguhnya hati kita jauh daripadaNya.

Di halaman 88 dan masa prapaskah ini, mari kita refleksikan kembali apakah hidup kita sudah mencerminkan Tuhan yang kita sembah… Tuhan yang penuh belas kasih yang tidak membalaskan kesalahan kita, yang tidak terlambat pertolonganNya, Tuhan yang dekat pada orang-orang yang berseru-seru kepadaNya dalam kesetiaan dan Tuhan yang tidak pernah melupakan perbuatan tanganNya.

%d bloggers like this: