Refleksi Harian Epiphany – Halaman ke-73 dari 365 halaman dalam tahun.


“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”
(Mat 23:11-12)

Kalo kita baca lengkap injil Hari ini, judul perikop ini adalah “Yesus mengecam ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi”

Yesus ketika berhadapan dengan orang yang berdosa ga pernah sebegitu keras kata-katanya (contoh : ketika bertemu dengan pemungut cukai seperti Zakeus, pelacur seperti Maria Magdalena dan orang samaria) tapi menghadapi kelakuan dan perbuatan ahli taurat dan orang farisi yang sombong, Yesus sangat tegas memberikan mereka peringatan-peringatan.

Saya percaya teguran Yesus bukan karena Ia membenci ahli taurat dan orang farisi tapi karena Tuhan melihat perbuatan mereka yang sombong dan bebal telah menjadi penghalang orang-orang di sekitar mereka untuk menerima kasih Tuhan.

Saya pernah bertemu orang-orang yang ga mau datang ke gereja lagi karena kecewa melihat tingkah laku orang-orang yang rajin ke gereja tapi kelakuan mereka berbeda dengan yang mereka ajarkan. Mertua melihat kelakuan mantunya yang seneng bergosip; anak melihat perbuatan bapaknya suka memerintah/memaki-maki di rumah; adik yang melihat kakaknya yang suka berteriak pada pembantu di rumah… padahal orang-orang ini adalah orang yang melayani di gereja. namun bagi orang terdekat mereka, sikap mereka tidak menjadi berkat.

Yesus pasti sedih sekali sampai dia begitu keras dan marah karena setiap jiwa begitu berharga buat Dia, eh malah seringkali kelakuan kita sebagai anak-anakNya bertolak belakang dengan rahmat dan kasih karunia yang sudah kita terima, kita malah dengan gampang menghakimi, menilai orang semena-mena, dan merasa diri lebih suci dari orang lain.

Yesus lewat firmannya hari ini mengatakan bahwa perubahan hidup kita setelah mengenal firman lah yang berkenan di mataNya, bukan semata-mata kehebatan pelayanan atau persembahan-persembahan kita. Kerendahan hati kita seperti dalam hal menerima kritik, membantu di belakang layar, mengalah, atau mau mendengarkan orang yang kesusahan, ini yang membuat orang bisa melihat Tuhan hadir nyata dalam hidup mereka.

Di halaman 73 ini, kami mohon ampun Tuhan ketika tingkah laku kami seringkali malah menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekeliling kami untuk mengenal Engkau.. sekali lagi Engkau menegur kami dengan kasih setiaMu bahwa semua kesombongan dan kebebalan kami hanya akan membawa kami pada kebinasaan. Ampunilah kami orang berdosa ini, Tuhan.

%d bloggers like this: