Refleksi Harian Epiphany. Halaman ke-80 dari 365 halaman dalam tahun.

Mat 18:35
Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
(Mat 18:21-35)

Membaca bacaan pertama hari ini bercerita bagaimana iman ke 3 orang pilihan Allah yaitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang di lempar ke perapian (di gambarkan dengan 7x lebih panas dari biasa nya bahkan membakar orang-orang yang mengusung mereka) dalam menghadapi kebuasan raja Nebudkanezar. 3 orang ini menolak menyembah berhala emas patung sang raja krn mrk hanya menyembah kpd Allah yg hidup; Allah Yahwe yang kita kenal saat ini di dalam diri Yesus Kristus! Yg menarik adalah, lihat bagaimana doa mereka ber 3 saat meminta perlindungan. Mereka memulai dengan permohonan ampun dan pertobatan! Luar biasa! Mrk sangat mengerti krn dg permohonan ampun dan pertobatan; mereka akan di selamatkan Allah! Hati yg bersih akan menyelamatkan kita semua. Dan hal yang kedua adalah, mereka tidak membenci sang raja walau sudah di perlakukan dmkn! Karena mereka tahu hanya Allah semata yang sanggup memberikan balasan sesuai perbuatan seseorang.

Injil menegaskan kembali bahwa kesempurnaan dan kekudusan hidup pribadi akan menjadi perfect dimata Nya jika anda dan saya (yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus), mampu mengampuni dosa dan kesalahan sahabat2 atau orang-orang dekat disekeliling kita yang sudah menyakiti kita. Tidak hanya dmkn namun Yesus mengatakan “…dengan segenap hati!” 😰😖berattttt Yesussss!!!!

Halaman 80, seorang anak muda sungguh luka batin thd mama nya. Dari kecil ia sering di banding2kan dengan kakak nya; dan beberapa kali terlontar kalimat dari mama nya, “anak kurang adjar – tau gitu mendingan tidak di lahirkan” atau kalimat2 seperti “bego banget sih – idiot! Lihat kakak kamu, rajin dan pandai”. Anak ini tumbuh menjadi pemuda yang kurang percaya diri dan cepat sekali emosi begitu terjadi beda pendapat. Mereka berdua sempat tidak ngomong beberapa bulan. Mama nya kesal karena anak nya suka melawan, si anak LB dengn mami nya. Pertanyaan nya, siapa yg mampu memutuskan lingkaran setan yang sudah menguasai kondisi ini? Mama nya meminta maaf karena kata2 kasar dan menyakitkan di masa lalu? Atau anak nya yang membuka diri dan minta maaf atas kebodohan nya tidak mendengarkan orang tua nya? Si mama bukan tidak menyadari, namun mengakui kesalahan = gengsi la 😰. Si anak tahu sudah nyakitin dengn membalas, namun LB nya terlalu dalam. Long story short, si mama memberanikan diri dan mencoba memperbaiki kekeliruan nya – dan di satu pagi hari, hanya dg kalimat sederhana (namun penuh keseriusan dan arti) “sorry, mami pernah ngatain kamu dengan kasar”. Si anak hanya diam. Namun sore hari nya mereka mulai ngobrol hal2 lain. Perjuangan mereka belum selesai, namun gunung es kedua nya mulai mencair. Semoga Kasih Kristus menyelamatkan mereka berdua. Ampuni dan minta ampun dengan segenap hati, ini kunci keselamatan dari Allah! Tuhan memberkati

%d bloggers like this: