PENGAMPUNAN & PEMULIHAN

Refleksi Harian Epiphany. Halaman ke-93 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”  (Yoh 8:10-11)

Bagaimana bisa pendosa zinah dilepas begitu saja dan habis perkara? Apa tidak aneh? Enak banget kan? Memang sulit buat kita untuk bisa mengerti betapa dalam belas kasihan Tuhan kepada manusia.

Belum lama ini di Facebook, saya melihat rekaman 2 orang muda naek motor yang menjambret tas seorang nenek yang sedang di dalam mobil (tau aja maling itu kalo si nenek tidak mengunci pintunya) lalu nenek itu berteriak histeris karena kaget sehingga mengundang perhatian massa di sekitarnya. Langsung saja massa mengejar dan memukuli orang tersebut sampai bonyok.. sadis banget kedengarannya kan? Namun semua orang memberi reaksi puas & berkomentar “Syukurin.. Pukulin saja sampai mati, biar tahu rasa, dasar manusia biadab!”  Adegan menghakimi dan dihakimi seperti ini sebenarnya bukan menjadi pemandangan yang langka pada masyarakat kita.

 

Mengampuni vs Menghakimi

Bukankah sama seperti bacaan Injil hari ini di mata rakyat, orang farisi & ahli taurat, wanita yang ketauan berzinah ini pantas dirajam. Tapi ternyata tidak demikian di mata Yesus. Malah Yesus berkata kepada mereka “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7)

Pertanyaan yang sama Yesus berikan kepada kita sahabat-sahabatNya di halaman ke-93 ini, “Siapakah kita berani menghakimi kesalahan/dosa orang lain seolah-olah kita tidak memiliki dosa/kesalahan? Sebegitu mudah & adilnyakah kita dalam menghakimi orang lain?

Dia juga berkata kepada kita “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Lewat kesaksian seorang santa bernama Faustina yg mendapat penglihatan bagaimana Tuhan mau kita sebagai umat manusia menyadari bahwa pintu kerahimanNya selalu terbuka selebar-lebarnya bagi semua jiwa, dimana Dia bersedia mengampuni kita walaupun kita tidak layak dan sudah berpuluh-puluh kali mengecewakanNya. KerinduanNya adalah kita menerima kerahimanNya yg tidak terselami.

Maukah kita menerima uluran tanganNya di masa prapaskah ini?

%d bloggers like this: