Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-60 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Karena itu apa yang dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia. (Markus 10:9)

 

Bacaan pertama mengatakan bahwa sahabat yang setia laksana obat kehidupan, pelindung yg kuat dan bagai harta, tetapi untuk mendapatnya kita sebaiknya berhati-hati dan mengujinya terlebih dulu.

Sedangkan dari bacaan injil dapat dimengerti bahwa setelah kita menguji dan memutuskan seseorang menjadi pasangan hidup dan berjanji di hadapan Allah untuk sehidup semati saling setia dalam suka dan duka, maka dialah sahabat sejati yg kita terima dengan kelebihan dan kekurangannya. Dan apa yang sudah di restui oleh Tuhan melalui sakramen hanyalah bisa dipisahkan oleh kematian , bukan oleh manusia.

Ada sepasang pasutri yang merayakan 25 tahun perkawinan, sang suami dalam sambutannya menyatakan bahwa perjalanan hidup mereka tidaklah selalu mulus, banyak kerikil yg mereka lewati, tapi satu hal yang mereka yakini bahwa mereka telah melewatinya bukan karena mereka hebat tetapi karena Tuhan setia menemani kehidupan mereka.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-60 ini mengingatkan kita, anda dan saya bahwa perkawinan adalah sarana menuju keselamatan menuju kehidupan kekal yang Tuhan Yesus janjikan.

Dalam perkawinan kita akan melatih ajaran Tuhan Yesus tentang kasih. Perkawinan melatih pasutri untuk mengasihi walaupun ada perbedaan pendapat, ada pengampunan apabila ada yg bersalah. Ada penguasaan diri dan kesabaran apabila ada kejengkelan. Pasutri akan mendapat kebahagiaan bila bisa saling memberi diri secara seutuhnya. Kalau demikian apakah manusia pantas memisahkan perkawinan?

Karena haruslah disadari oleh para pasutri, perkawinan bukan antara 2 pihak saja tetapi melibatkan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Semoga Tuhan memberkati para pasutri sekalian. Amin.

%d bloggers like this: