PERMATA DALAM BEJANA

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-167 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Kor 4:7) (Silakan baca selengkapnya di 2 Kor 4:7-15)

 

Rasul Paulus mengingatkan bahwa dirinya mempunyai keberanian mewartakan ajaran-ajaran Yesus karena kebesaran kuasa Allah semata. Paulus dengan rendah hati menyamakan dirinya sebagai bejana tanah liat yang rapuh tapi akan menjadi lebih kuat dan berarti bilamana diisi sesuatu, dan sesuatu itu adalah ajaran-ajaran Kasih dari Yesus.

Seorang imam pendiri sebuah ordo yang dikenal sebagai imam yang mempunyai karunia penyembuhan suatu kali bersaksi tentang dirinya. Imam tersebut sebenarnya memilih panggilannya sebagai imam petapa, tapi karena orang mengenalnya karena mempunyai karunia penyembuhan maka setelah pergulatan panjang antara keinginannya menjadi petapa dan kebutuhan umat Tuhan menginginkan imam itu melayani di masyarakat, akhirnya ia memutuskan pada pilihan umat. Dia bercerita tentang saat awal pelayanannya, setelah 3 kali memimpin retret dengan sangat berhasil, ia kemudian mengalami perasaan seperti ditenggelamkan dalam kesunyian. Imam ini sempat bertanya apa yang Tuhan mau nyatakan pada-Nya. Dalam kontemplasinya imam ini menemukan bahwa ia harus selalu menomor satukan Yesus, apapun yang terjadi.

Dari saat itu imam ini selalu mempercayakan karya dan pelayanannya pada Tuhan, ia bercerita bagaimana ia mendirikan ordo untuk para imam dan para suster yang diyakininya adalah karya dan kehendak dari Tuhan, dan bilamana ia memerlukan biaya untuk keperluan ordonya maupun pelayanannya, ada saja yang bersedia menyumbang, Tuhan yang menyediakan melalui tangan-tangan umatnya. Tentang karunianya imam ini selalu mengatakan bukan dirinya yang bisa menyembuhkan tetapi kuasa Tuhan yang menyembuhkan dan iman dari orang yang menghendaki dirinya untuk disembuhkan.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-167, marilah kita menjawab “ya” pada panggilan Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya. Kadang kita ragu apakah kita mampu? Tidak perlu menunggu menjadi mampu karena Tuhan akan melengkapi kita dengan karunia-karunia yg diperlukan untuk pelayanan kita. Seperti kata Paulus, kita ini cuma bejana tanah liat yang akan bermanfaat kalau diisi sesuatu yang baik.

Satu hal yang selalu kita ingat bahwa kita ini milik Tuhan. Karena Dia kita dimampukan untuk membalas kasih-Nya melalui pelayanan kita, kita harus menomorsatukan Tuhan dalam pelayanan kita agar tidak mudah menyerah pada saat hambatan dan tantangan menghadang. Selamat melayani Tuhan, Tuhan selalu memberkati. Amin.

%d bloggers like this: