Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-109 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?” Mereka berteriak pula: “Jangan Dia, melainkan Barabas!” (Yohanes 18:39-40)

 

Kecuali kalau kita tidak punya sosmed, sulit rasanya untuk tidak tahu apa yang telah terjadi di belahan dunia Eropa sana. Salah satu Gereja Katolik yang sangat indah, terbakar dan rusak parah. Gereja tersebut dikatakan “sangat” penting karena merupakan symbol dan jantung dari negara tersebut, trilliunan dollar akan dihabiskan untuk memperbaiki.

Sekilas apabila membaca kalimat ini, apakah berarti negara itu sangat Katolik?

Sekian waktu yang lalu, negara yang sama menjadi pencetus sexual revolution sedunia. Pesan dari revolusi tersebut sebenarnya simple saja: kami menolak ajaran Gereja dan Tuhan Yesus, karena ini adalah tubuhku, ya suka-suka gue dong. Puncak dari revolusi itu, dikatakan seorang prostitute menari diatas altar Gereja yang sama, untuk menghina dan menolak Gereja dan Tuhan.

230 tahun kemudian, feminisme, kontrasepsi dan perceraian merajarela, orang tidak lagi melihat pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-109, pilih Tuhan Yesus, atau Barabas? Kalau anda seperti saya, sampai hari ini saya juga dihadapkan oleh dua pilihan yang sama.

Contoh lainnya, ketika ex teman kerja saya gagal ujian SIM, menurut aturan di Sydney, seharusnya SIM dari negara asalnya sudah tidak berlaku lagi. Tapi, karena ingin gampang dan enaknya saja, Hindi (bukan nama sebenarnya), yang beragama Katolik tetap memakai SIM negara asalnya. Katanya toh teman-teman yang lain juga begitu dan gak ketauan. Dalam hal ini Hindi telah memilih Barabas.

Di hari Jumat Agung ini, siapakah yang akan anda pilih? Apakah kita sudah siap menyambut Paskah dan memilih Tuhan Yesus? Atau kita masih memilih Barabas-Barabas kita yang lain?

%d bloggers like this: