Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-173 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga. Di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya, dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:20)

 

Yesus dalam kotbahnya di bukit, mengingatkan untuk mengumpulkan harta surgawi bukan harta duniawi.

Hidup ini seperti penumpang kereta api, kita diberikan karcis cuma-cuma yang telah dibayar oleh Darah Yesus. Sudah jelas arah tujuannya yaitu dimana kita bersatu dengan Allah. Jalannya sudah ditunjukkan, hanya mengikuti rel, jalan kebenaran. Tetapi kita mempunyai hak kebebasan (free will), bebas memilih berapa lama mau istirahat di rest area menikmati kesenangan dan keindahan disuatu tempat. Kadang seseorang terpaku terlalu lama dan lupa tujuan akhirnya.

Hari ini gereja memperingati santo Paulinus. Seorang santo yg lahir sebagai bangsawan Romawi di Perancis. Dia mempunyai bakat berpidato dan penyair. Menerima dirinya di baptis, tetapi mengalami kesusahan dan penderitaan setelah itu bahkan anak tunggalnya meninggal. Hidupnya berubah sejak menerima nasihat santo Hieronimus, “Putuskanlah hubungan dengan dunia dan pelajari Kitab Suci”.

Paulinus bersama istrinya menjalani hidup murni bagi Tuhan dan membagikan kekayaannya untuk orang miskin. Paulinus menjadi imam di Barcelona , kemudian diangkat menjadi uskup di Nola. Ia bahkan menyerahkan dirinya dipenjarakan sebagai ganti umatnya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-173 ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kita sebaiknya tidak membuang waktu dengan sia-sia dengan mengumpulkan harta duniawi, karena kita punya tujuan yang jauh lebih baik dengan melepas keterikatan dengan harta duniawi dan mengumpulkan harta surgawi yang jauh lebih berharga.

%d bloggers like this: