‘ANNOYING’ PREACHER

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-146 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kis 18:9)

 

Salah satu Santo yang Gereja Katolik rayakan hari ini adalah St Phillipus Neri. Ada yang menarik dari salah satu pengalaman hidupnya yang kira-kira mirip dengan ayat diatas, dimana di tahun 1534 ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke India tetapi Allah memilihnya menjadi Rasul di kota Abadi itu.

Philipus Neri adalah rasul yang selalu bergembira, penuh humor dan akrab di tengah kalangan muda. Ia bukanlah seorang teolog kenamaan atau seorang politikus. Ia, orang biasa, tetapi ia memutuskan untuk terus melayani Firman Tuhan di Roma (tidak jadi ke India) dan hidupnya merupakan rentetan mukzijat yang tidak henti-hentinya. Ia di beri Karunia Penyembuhan hanya dengan menyentuh mereka yang sakit. Mampu membangkitkan semangat mereka yang patah dan mengajarkan kepada umat agar menghadapi hidup penuh dengan sukacita dan hati yang gembira. Ia wafat di usia 80 di kota Roma.

Banyak manusia berpikir, bagaimana yang namanya memberitakan Firman dan tidak boleh stop? Apakah saya harus terus berkotbah dan menjadi penginjil keliling kota? Saya teringat satu pengajaran bahwa menjadi seorang Evangelist (atau pewarta kabar gembira) BUKAN soal menjadi pembicara di mimbar atau semata-mata berkeliling kota menginjil. Yang terutama adalah bagaimana anda dan saya berani memperlihatkan Kristus yang hidup di dalam diri kita, dan tampak di dalam setiap aspek tutur kata, perbuatan dan cara pikir kita. Bagaimana Ia telah merubah hidup lama kita yang penuh ke ‘aku’ an menjadi rendah hati dan memperlihatkan Buah Roh yang berkembang di dalam diri kita, sehingga orang di sekitar kita bisa berkata “Terpujilah Allah”.

Refleksi harian Katolik halaman ke-146, mulailah dari hal sederhana, misalnya, buat tanda salib saat anda dan saya mau berdoa di hadapan umum dengan sopan dan tidak malu-malu (sedih juga kadang melihat orang Katolik membuat salib kecil banget di dada saat mau doa atau tangannya di ayun-ayun di udara cepat-cepat seperti mau usir lalat). Mulai dengan melihat orang lain equal, walau kita mungkin punya kelebihan jauh dari padanya. Mulai belajar menahan emosi pada saat sesungguhnya wajar untuk marah karena anda dan saya benar. Beritakan Ia, Raja kita, yang di salib untuk kemenangan anda dan saya! Tuhan memberkati

%d bloggers like this: