KEMURAHAN HATI ALLAH DI BALIK HUKUM-HUKUM-NYA

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-209 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:23)

 

Umumnya apabila seseorang dihadapkan pada rentetan aturan-aturan dan hukum, secara natural mereka akan kesal dan marah karena kebebasan mereka dibatasi. Ada juga yang berusaha untuk mencari celah, dan lalu bangga kalau berhasil mengakali aturan-aturan yang telah ditetapkan. Namun sedikit dan hampir tak ada yg gembira apabila diberi banyak aturan.

Bukan kebetulan bacaan pertaama kali ini diawali dgn 10 perintah Allah. 10 perintah, kalau dipikir jumlahnya amat sedikit, dan mempunyai banyak celah. Mungkin reaksi yang sama diberikan oleh bangsa Israel, ada yang memanfaatkan celah tsb. Sehingga akhirnya peraturan-peraturan lain harus dibuat, dan jumlahnya pun bertambah bukan kepalang, dan hampir tak mungkin utk melaksanakan semua itu.

Bacaan Injil hari ini sebaliknya menekankan agar kita mendengar dan mengerti firman Tuhan. Ironisnya, benihnya sama (Firman Tuhan), tanahnya yang berbeda sehingga outcome-nya berbeda.

Saat membaca bacaan ini, saya teringat saat pacaraan dulu dengan mantan pacar (yang sekarang telah jadi istri). Semua yang pernah berpacaran pasti pernah mengalaminya. Saat sang pacar meminta sesuatu, yang kadang seolah2 seperti perintah, kita pasti senang-senang saja melakukan semua itu. Bahkan ketika kita berhasil menjalankannya, kita malah semakin sayang kepada sang pacar meskipun sudah disuruh-suruh dan diperintah.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-209 ini, tujuan aturan-aturan yang Tuhan berikan sebenarnya simpel: agar kita semakin mencintai sesama dan terlebih semakin cinta pada Tuhan. Namun hati manusia yang membuatnya menjadi complicated, sehingga kita gagal memahami tujuan dari aturan-aturan tersebut, lalu melihatnya sebagai beban dan akhirnya gagal untuk berbuah. Sebaliknya apabila kita sungguh mencintai Tuhan, seperti sepasang insan sedang berpacaran, maka kita pasti tidak akan kesulitan melakukannya.

Tuhan telah terlebih dahulu mencintai anda dan saya. Sekarang tergantung kita untuk membalas cintaNya. Hal ini pasti tidak gampang, tapi mari bersama-sama kita meminta kekuatan dari Roh Kudus, dan Ia yang akan memampukan kita untuk menjalankannya.

%d bloggers like this: