Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-89 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Akan tetapi sekalipun Anak, Ia telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya! Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. (Ibrani 5:7-9)

 

Pada malam akhir sebelum menghadapi penderitaan di taman Getsemani, Yesus sangatlah takut dan cemas. Yesus tahu bahwa besok Dia akan menderita sengsara dan wafat, tetapi semua itu harus dijalani tanpa mengunakan kuasa ke Allahan-Nya. Dia berpeluh dan mengharap piala ini bisa berlalu, tetapi ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya membuat Dia menerima penderitaan-Nya.

Sebuah saksi bagaimana Yesus sungguh disiksa sampai melebihi batas-batas ketahanan manusia adalah kain kafan Turin. Walaupun sempat diragukan keasliannya, tetapi akhirnya para scientist berkesimpulan bahwa kain Turin ini dipakai mengkafani seseorang yang meninggal lemas kehabisan darah akibat disiksa, kejadiannya di abad pertama, dan tempatnya pada radius 12km sekitar Yerusalem, dan berkas darah akibat luka-luka yang tercetak pada kain turin tersebut cocok dengan luka-luka yang digambarkan di kitab suci dari kisah sengsara Tuhan kita Yesus dari Nazareth. Deskripsi luka-luka di kepala, lambung, ditangan dan kaki membuktikan penderitaan yang sangat luar biasa.

Menurut santa Brigitta dari Swedia, Yesus menerima 5480 pukulan di tubuh-Nya pada saat penyiksaan itu. Ini semua Yesus lakukan demi ketaatan kepada Bapa yang mengutus-Nya kedunia dan kasih-Nya yang luar biasa untuk menebus umat manusia yang berdosa.

Apakah kita, anda dan saya masih meragukan pengorbanan Yesus? Kita yang kadang-kadang menerima penebusan ini dengan take it for granted, dan mengasihi Dia dengan suam-suam kuku? Apakah kita seringkali mengalami ketidakadilan dari atasan, pemimpin di pelayanan atau komunitas kerohanian?

Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa dalam mengikuti Kristus kita akan mengalami penderitaan dan ketidakadilan. Yesus mengajak kita untuk menyangkal diri (melawan kehendak diri), memikul salib kita dan mengikuti Dia dan kita akan mendapatkan keselamatan kekal bersama Allah dan para orang kudus.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-89 ini mengajak kita, anda dan saya untuk mengenang dan meresapi pengorbanan Yesus demi kasih-Nya kepada kita, dan mengikuti teladan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya.

Mari para saudaraku, kita mengikuti ibadat Jumat Agung hari ini dengan sepenuh hati. Amin.

%d bloggers like this: