Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-95 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. (Kebijaksanaan Salomo 2:15)

 

Ada pepatah mengatakan “the stake that sticks out gets hammered down”, dapat diartikan bahwa siapa yang menonjol akan mendapat tekanan lebih agar menjadi selevel dengan yang lainnya. Memang lebih mudah dan lebih aman untuk blend in dengan keramaian dibanding tampil berbeda. Yang berbeda akan selalu disorot, dicari-cari kesalahannya, dan juga biasanya tidak punya banyak pembela. Tetapi orang demikianlah yang dapat memimpin kepada suatu perubahan.

Sesungguhnya kita dipanggil Allah untuk menjadi berbeda dengan dunia. Kita dipanggil untuk meneladani Kristus dalam melakukan kehendak Bapa meskipun mengakibatkan diri-Nya ditolak oleh banyak orang, dianiaya bahkan dijatuhi hukuman mati yang keji. Sebagai seorang Kristen, kita harus menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari, bukannya berkompromi dengan dosa. Dunia modern ini semakin hari semakin merosot, banyak pelanggaran nilai moral dan nilai Kristiani yang dianggap lumrah. Dapatkah kita mempertahankan dan juga menyebarkan nilai-nilai yang Yesus ajarkan?

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-95 mengajak kita untuk mengingat kembali identitas kita sebagai seorang Kristen. Kita justru tidak boleh menjadi sama dengan dunia. Kita dipanggil untuk menjadi terang dunia, tidak mungkin terang dunia tidak menonjol dan diperhatikan orang. Kiranya Tuhan memberkati kita dengan keberanian melakukan hal-hal yang benar meskipun membuat kita berbeda dengan orang-orang di sekitar kita.

%d bloggers like this: