Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-250 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (Lukas 5:38)

 

Rasul Paulus sebelum perjumpaan pribadi dengan Yesus dan bertobat, adalah seorang yang menganiaya orang Kristen. Ia pertama kali muncul dalam Kitab Suci di tengah kerumunan orang, memberi restu akan hukuman mati terhadap Stefanus, martir Kristus yang pertama. Syukur pada Tuhan bahwa Paulus akhirnya menjadi hamba Tuhan, mengabdikan hidupnya untuk mewartakan Injil terutama kepada orang-orang non-Yahudi.

Injil hari ini berbicara tentang anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula, agar keduanya tidak rusak dan terbuang. Agar rahmat dan karunia Allah tinggal dalam diri kita, haruslah kita bertobat terlebih dahulu, menjaga hati, pikiran, perbuatan kita bersih untuk menjadi kantong yang baik dan menerima anggur yang baru. Tanpa bertobat terlebih dulu, bukannya menjadi berkat kepada sesama, kita justru akan menjadi sandungan bagi mereka. Bayangkan seorang yang kekanak-kanakan, sombong atau manja menjadi rekan kerja di dalam pelayanan, mungkin justru mengusir orang yang dilayani.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-250 ini, marilah kita belajar dari Rasul Paulus. Jangan biarkan masa lalu kita menentukan masa depan kita. Melalui pertobatan terus menerus, kita dapat memperbaiki diri, dan dengan rahmat Allah kita dapat pula menjadi pembawa dampak positif kepada orang-orang di sekeliling kita. Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: