Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-40 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu (Markus 7:32)

 

Seseorang yang tuli sejak lahir umumnya akan bisu juga. Bahwa di kisah hari ini orang yang dibawa kepada Yesus adalah tuli dan gagap menunjukkan bahwa ia bukannya tuli sejak lahir.

Di zaman modern ini ilmu pengetahuan dan kesehatan semakin maju. Tuli secara lahir semakin dapat ditekan. Namun banyak orang yang terlihat sehat tidak lagi mampu mendengar satu sama lain, termasuk dalam lingkup keluarga. Contohnya saya dan anak-anak saya yang tidak mampu mendengar panggilan kalau sudah asyik menonton acara tv. Puji Tuhan kami sadar dan berbenah. Banyak juga orang yang sibuk dengan smartphone, ke mana-mana sibuk sendiri mendengar musik, membaca, dan lain-lain sehingga tidak mampu mendengar (tidak mau menggubris) sekelilingnya. Ada pula kasus kecanduan game online yang membuat orang ‘tuli’ dan juga ‘gagap’ berkomunikasi di dunia nyata.

Kalau mendengar secara lahirlah saja susah, bukankah jauh lebih susah lagi mendengar bisikan Roh Kudus yang lemah lembut? Marilah di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-40 ini kita renungkan dan sadari bersama bahwa kemampuan kita mendengar telah jauh berkurang seiring perkembangan teknologi.

Mari kita bertobat dan memohon Tuhan berseru: “Efata!” agar kita juga beroleh kesembuhan, mampu mendengar jelas dan dapat berkata-kata untuk menyaksikan kepada dunia betapa Allah itu hidup dan penuh kuasa.

Tuhan memberkati anda dan saya pada hari ini.

%d bloggers like this: