Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-17 dari 365 halaman dalam tahun 2019.

 

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Markus 1:40)

 

Menjadi orang tua adalah sebuah hal yang sangat saya syukuri, salah satunya karena melalui parenthood saya lebih mengerti hati Bapa di sorga.

Sering kali saya refleksikan hubungan kita dengan Bapa sebagaimana hubungan anak-anak dengan saya sendiri. Walaupun tidak sama, namun banyak kesamaan. Anak-anak saya sangat baik perilakunya, tapi tetap saja namanya anak kecil memang banyak maunya. Sesayang-sayang saya kepada anak-anak, tetap ada beda reaksi saya terhadap bagaimana cara anak-anak meminta keinginan mereka.

Kepercayaan, keyakinan dan kerendahan hati sering kali adalah kunci anak-anak meluluhkan hati. Dalam bacaan pertama kita lihat bahwa ketidak percayaan bangsa Israel di padang gurun mendatangkan murka Allah.

Sebaliknya kita dapat melihat dalam bacaan Injil bahwa kerendahan hati dan kepercayaan si kusta membuat hati Yesus tergerak oleh belas kasihan sehingga mendatangkan mujizat kesembuhan baginya.

Refleksi Harian Katolik Epiphany halaman ke-17 mengajak kita untuk merefleksikan sikap hati kita dalam relasi kita dengan Tuhan. Apakah kita sudah cukup rendah hati mengakui bahwa kemampuan manusia sangat terbatas, untuk kemudian selalu mengandalkan Tuhan? Apakah kita sudah percaya dan yakin bahwa Tuhanlah yang akan memberikan jalan keluar yang kita perlukan?

%d bloggers like this: