Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-354 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu. Tetapi Ahas menjawab: “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN” (Yesaya 7:11-12)

 

Sewaktu kecil, saya pernah mendengar sebuah cerita dari guru agama Katolik SD, tentang bagaimana sebuah organisasi di sebuah negara mencuci otak anak-anak di negaranya agar mereka tidak percaya pada Tuhan. Salah satu trik yang mereka pakai, awalnya si anak disuruh berdoa dan minta lollipop dari Tuhan. Beberapa detik kemudian, si anak diminta untuk membuka matanya, lollipopnya tidak ada dan anak-anak itu pun kecewa.

Langkah berikutnya, si anak disuruh meminta lollipop lagi, kali ini kepada kepala militer yang bersangkutan. Dan lollipop langsung saat itu juga diberikan. Kesimpulannya, berarti Tuhan tidak ada, atau tidak peduli, atau tidak mau anak-anaknya gembira dengan mengabulkan permintaan mereka. Tetapi apabila mengabdi kepada militer, maka semua orang pasti bahagia dan semua permintaan pasti akan diperhatikan.

Walaupun saat mendengar cerita tsb, saya tahu jelas-jelas salah, tapi sayangnya saya sering kali masih terjerat dengan pikiran seperti cerita di atas. Mungkin saya tidak berharap permintaan akan dikabulkan dalam hitungan detik. Tetapi ketika berminggu-minggu atau bertahun-tahun lewat. Mulai terlintas dalam pikiran, ah mungkin saya banyak dosanya, atau ah mana mungkin sih Tuhan mau kabulkan. Lalu karena takut kecewa lagi, saya mulai mengutip perkataan Ahas “aku tidak mau meminta, karena aku tidak mau mencobai Tuhan!” Padahal dalam hati, saya tahu sebenarnya saya takut kecewa.

Bacaan di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-354 ini, is a reminder of hope. St Monica berdoa belasan tahun agar anaknya St Agustinus bertobat dan menjadi Katolik. St Theresa Lisieux walaupun sakit2an dan dibully oleh teman-temannya, ia tetap berdoa dan setia. Nubuatan nabi Yesaya di bacaan pertama, walaupun telah lewat ratusan tahun, tetap digenapi di bacaan Injil dengan lahirnya bayi Yesus.

Masa Adven adalah masa-masa penuh pengharapan, bahwa Tuhan tidak pernah lupa atau meninggalkan orang-orang yang mengasihiNya. Sebab walaupun di mata manusia terlihat tidak mungkin, bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1:37).

%d bloggers like this: