Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-172 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu (Matius 6:9)

 

Seringkali doa kita adalah sebuah shopping list untuk memuaskan keinginan pribadi kita. Namun saat mengalami pergumulan beratlah, kita biasanya baru menyadari hal-hal apa yang sungguh-sungguh kita perlukan.

Kabar gembira hari ini menunjukkan bahwa Allah Bapa kita terlebih dahulu mengetahui apa yang kita perlukan sebelum kita memintanya. Bapa kita sungguh maha tahu dan memahami keperluan kita.

Kita telah mewarisi sebuah doa yang sempurna yang Yesus sendiri ajarkan bagi kita. Relasi kita dengan Allah diperbaharui bukan hanya sebagai Pencipta dan ciptaan, Tuan dan hamba, kita diajak oleh Tuhan Yesus untuk memanggil Allah sebagai ‘Bapa Kami’.

Seperti layaknya orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya, dan berbagi semua harta miliknya dengan anaknya, demikian pula Bapa kita terhadap kita. Tidak semua keinginan anaknya akan dikabulkan. Orang tua tahu bahwa anaknya yang masih kecil bisa meminta macam-macam termasuk hal yang membahayakan. Semakin si anak beranjak dewasa, semakin selaraslah keinginannya dengan kehendak orang tua, yaitu kebaikan semua anak-anaknya, bukan hanya bagi anak yang meminta.

Seringkali kita melantunkan doa Bapa Kami cepat-cepat tanpa meresapi arti setiap kata yang kita ucapkan. Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-172 ini mengajak kita untuk lebih meresapi kata-kata dan arti dalam doa Bapa Kami.

Tuhan memberkati, mencukupi, menghibur dan memberi kekuatan bagi kita semua.

Bapa kami yang ada di sorga …

%d bloggers like this: