Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-264 dari 365 halaman dalam tahun.

 

 

“Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya.” (Matius 9:10)

 

Apakah ayat diatas menarik perhatian teman-teman pembaca refleksi harian Katolik Epiphany? Coba yukkk dibaca lagi versi komplitnya dari injil Matius 9:9-13.

Pada umumnya, orang yang belum bertobat atau masih terikat pada dosa/hal-hal keduniawian, akan memilih untuk tidak dekat-dekat dengan seorang yang saleh (baca: orang yang aktif dan rajin ke gereja, orang yang suka ajak orang-orang ke gereja). Karena buntut-buntutnya mereka takut akan dikuliahi (dibacain dosa-dosanya) dan dibanding-bandingkan atau dihakimi kehidupannya. Ingat perikop tentang doa seorang Farisi yang melihat seorang pemungut cukai berdoa di gereja?

Tapi ternyata kehadiran Yesus tidak membuat mereka merasa demikian.Malah sebaliknya mereka mau datang mendekat dan makan bersama (pada zaman itu belum ada android atau iphone, mereka tentu mengobrol satu sama lain sambil menikmati hidangan). Yang justru mempertanyakan Yesus adalah orang-orang Farisi “Ngapain tuh Yesus ngumpul, ngobrol & makan sama mereka yang berdosa?” 😳

Hari ini gereja merayakan pesta Santo Matius, seorang pemungut cukai yang meresponi undangan kasih Yesus untuk mengikuti Dia, dengan meninggalkan masa lalunya. Transformasi hidupnya telah membawa banyak jiwa mengenal dan menerima Yesus.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-264, mari kita para pengikut Yesus merefleksi diri, “Bagaimanakah sikap kita terhadap saudara-saudara kita yang masih belum bertobat?” Apakah kehadiran kita  membuat mereka gerah atau justru sebaliknya, sikap hidup dan pertobatan kita telah menjadi jembatan yang memperkenalkan & membawa Yesus yang penuh belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan rahmatNya?

%d bloggers like this: