Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-115 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“… dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Lukas 24:47)

 

Salah seorang teman saya, Iko, bukan nama sebenarnya, aktif pelayanan di komunitas Gereja Katolik. Tapi ia sempat dinasehati oleh ayahnya, katanya ia aktif melayani orang-orang lain, tapi kakak-kakaknya sendiri sudah tidak percaya lagi dan tidak pernah ikut misa di Gereja lagi. Bagi Iko sendiri, jauh lebih mudah untuk menceritakan kebaikan Tuhan Yesus kepada teman-teman di PD, dari pada kepada saudara-saudaranya sendiri.

Dari kutipan Injil hari ini, pertobatan harus disampaikan kepada semua orang, mulai dari Yerusalem. “Yerusalem” adalah tempat, atau kota idaman bagi para murid, tempat kesibukan mereka sehari-hari, bagi kita semua, “Yerusalem” berarti di keluarga, di kantor tempat kita bekerja, ataupun di sekolah tempat kita belajar. Di tempat-tempat itulah kita dipanggil untuk menjadi saksi bagi “pertobatan dan pengampunan”.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-115, sayangnya bagi kebanyakan orang, juga bagi saya sendiri, merasa alangkah susahnya untuk mewartakan Tuhan Yesus kepada keluarga sendiri. Mungkin karena keluarga sendiri sudah mengenal kita, termasuk jelek-jeleknya kita: yang dulunya suka marah, yang dulunya manja, atau suka bohong. Tuhan Yesus sendiri juga pernah diejek, “bukankah dia anak tukang kayu?” (Matius 13:54-58).

Justru itulah tantangan yang harus dihadapi oleh setiap orang Katolik: memperkenalkan Tuhan Yesus kepada Yerusalem, yaitu kepada keluarga sendiri. Kita boleh bangga dan merasa berhasil, apabila keluarga sendiri bisa melihat perubahan positif di dalam diri kita.

 

%d bloggers like this: