Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-243 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Matius 24:44). Baca lengkap di Matius 24:42-51.

 

Saya bersyukur sekali pada Tuhan atas anak saya yang skrg berumur 6 thn, she’s a lovely and sweet girl. Padahal pas hamilnya ga enak banget. Selama 9 bulan tidur tidak enak, harus pantang makan2an tertentu dan kaki sempet bengkak segede “gajah”, apalagi pas kontraksi melahirkan sakitnya ruarrrr biasaaaa! Ya Tuhan kok hamil dan ngelahirin anak susahnya minta ampun ya?! Tetapi Tuhan tidak mencabut kesusahan tersebut malah seakan Tuhan berkata bahwa itu semua adalah proses pembentukan supaya baby bisa bertumbuh dan kuat untuk lahir nanti. Jadi, ya walaupun ga enak, saya harus tetap setia melakukan apa yang harus dilakukan sampai akhir. Dan sekarang saya suka senyum2 sendiri melihat anak saya yang luar biasa.

Begitu pula prinsip dalam kehidupan kita. Tuhan telah merencanakan berkat dan hal-hal baik di depan kita. Tetapi sayangnya sering kita tidak sabar menjalani proses yang Tuhan siapkan. Seperti yang terjadi di bacaan Injil hari ini, di mana seorang hamba menunggu tuannya untuk memberikan ‘promosi’. Tetapi seakan sang tuan tidak kunjung datang, ia mulai tidak setia pada tugasnya dan mulai melakukan hal-hal yang tidak baik. Memang ketika harapan tidak kunjung datang, maka sangat mudah untuk “menyimpang” dan tidak setia. Tetapi sama seperti proses kehamilan, kita tidak bisa melihat dengan mata fisik bahwa ada sesuatu yang sedang terbentuk dan siap dilahirkan di waktu yang tak terduga, bila kita tetap setia melakukan yang terbaik.

Ingat cerita Daud ketika diurapi menjadi raja buat bangsa Israel ia masih begitu kecil. Tetapi apakah seketika itu juga ia langsung duduk di singgasana dengan kekuasaan? Ternyata tidak. Ia tetap harus setia menggembala domba. Bahkan diolok-olok oleh kakak-kakaknya yang prajurit, serta tetap harus mengasihi Saul yang membencinya. Tetapi dalam kesusahannya, Daud tetap setia walaupun seakan janji Tuhan untuk dia menjadi raja tidak nampak di mata. Ternyata kesetiaanya pada tugas adalah proses Tuhan untuk mempersiapkan Daud menjadi kuat dan mengandalkan Tuhan sehingga pada akhirnya ia menjadi raja pertama bagi bangsa Israel.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-243, setiap kesusahan yang Tuhan izinkan terjadi, setiap orang atau peristiwa yang “mengasah” kita, semua Tuhan tempatkan bukan untuk menjatuhkan kita, melainkan sebagai proses pembentukan untuk mempersiapkan kita menerima janji-janji dan rencana Tuhan yang luar biasa. Mari Anda dan saya selalu setia dan siap sedia, karena rahmat Tuhan datang pada saat yang Anda tidak duga.

%d bloggers like this: