ROTI HIDUP

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-124 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Yoh 6:51

 

Setiap kali membaca kisah tentang sida-sida di Etopia (di bacaan pertama: Kis. 8:26-40) selalu mengingatkan saat anak saya akan dibaptis, sewaktu ia berumur 1 bulan dulu. Seperti biasa, untuk baptisan bayi, para ortu akan dipersiapkan dan diberi pelajaran iman oleh Romo yang akan merayakan sakramen baptis tersebut.

Oleh karena di Gereja tempat anak saya akan dibaptis, terdapat kolam / basin yang cukup besar bahkan untuk orang dewasa. Entah mendapat ilham dari siapa, saya tiba-tiba meminta ke Romo yang bersangkutan, apakah si bayi boleh untuk dibaptis celup.

Si Romo kontan kaget mengatakan tidak boleh, dan airnya hanya akan dituangkan keatas kepala. Kenapa? Karena saat itu adalah musim dingin di Australia, dan airnya pasti juga sangat dingin. Tentu ini bukan kombinasi yang bagus untuk bayi berumur satu bulan. Si Romo lalu menegur dan menjelaskan bahwa iman si anak setelah ia dewasa dan peran serta ortu dalam membimbing, akan jauh lebih penting. Penjelasan si Romo menegur aku 🙂

Manusia memang lebih mementingkan apa yang dilihat mata, semakin terlihat spektakuler, maka orang semakin percaya. Namun di halaman 124 ini, ada satu requirement yang tak kalah paling penting saat seseorang akan dibaptis. Percakapan Filipus di ayat 37 rasanya menjelaskan semua itu: (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.“). Dan rasanya pertanyaan tersebut tidak stop pada seseorang yang baru dibaptis saja. Masih percayakah kita pada Tuhan Yesus? Masih percayakah kita bahwa hosti adalah tubuh Kristus itu sendiri?

Rasa percaya, atau creed, atau credo, yang diucapan oleh sida-sida itu I believe that Jesus Christ is the Son of God, itulah yang terpenting. Dan kita bisa lihat bagaimana Roh mengubahkan hidup sida-sida setelah ia dibaptis, ia tak lagi bingung seperti diawal cerita, namun melanjutkan perjalannya dengan sukacita.

Mulai di halaman ke-124 ini, asal kita percaya, dengan rahmat baptisan yang telah kita terima, kitapun dapat menjalankan perjalanan hidup kita dengan sukacita.

%d bloggers like this: