Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-39 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.” (1 Raja-Raja 11:6)

Anak saya punya ingatan yang sangat kuat. Kalau saya berjanji apapun pasti akan ia pegang dan terus menagih sampai janji itu dipenuhi.

Di suatu pagi minggu lalu, saya berjanji mengajak dia main sepeda di taman, tapi karena terlalu sibuk sampai hampir sore kita tidak pergi. Berkali-kali dia menagih sampai akhirnya menangis. Karena merasa bersalah maka saya pergi ke taman dengannya meskipun sudah sore sekali.

Kita semua pasti tahu tentang pentingnya sebuah janji. Mungkin juga banyak dari kita yang pernah diingkari janjinya oleh orang lain atau dikhianati. Coba bayangkan bagaimana perasaan kita saat ini terjadi? Mungkin juga kita pernah mengingkari janji kita terhadap orang lain. Bagaimana reaksi dan perasaan orang tersebut?

Iman kita kepada Tuhan merupakan suatu perjanjian dimana lewat lahir, wafat dan kebangkitan Yesus kita menantikan kehidupan kekal di Surga. Seperti pada jaman Salomo, hidup kita di jaman modern ini penuh dengan godaan dan distraction yang membuat kita mendua hati dan lupa akan janji setia kita kepada Tuhan. Godaan yang paling bahaya adalah godaan yang dengan perlahan tapi pasti menjauhkan kita dari Tuhan tanpa kita sadari.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-39, coba kita renungkan ‘status’ janji kita kepada Tuhan saat ini. Apakah kita masih terus berpegang kuat pada hukum-hukum dan ajaran-Nya? Jika iya, bagus! Apakah kita sudah sebegitu jauhnya dari Tuhan sehingga kita tidak merasa lagi punya identitas sebagai orang Katolik? Apakah ada godaan-godaan yang masih sulit untuk kita lepaskan? Jika iya, Tuhan masih dengan rindu menanti kita untuk kembali dan memberi kita kesempatan untuk membuktikan iman dan janji kita kepada-Nya.

%d bloggers like this: