Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-104 dari 365 halaman tahun 2019.

 

…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:7)

 

Tepat 40 hari yang lalu, kita semua ikut ibadah Rabu Abu dimana kita diingatkan kembali bahwa kita manusia berasal dari abu dan satu saat nanti, akan kembali menjadi abu.

Dalam kisah penciptaan pun jelas digambarkan, dari abu dibentuklah manusia, dan hembusan Roh Allah yang memberi kehidupan, sehingga anda dan saya disebut manusia.

Pagi ini anda dan saya diajak merenungkan kisah sengsara Kristus yang uniknya dimulai dengan perarakan daun palma, di sambut sebagai Raja sebelum menyelesaikan tugasNya menebus kita semua dengan berlumuran darahNya yang Kudus. Ia yang nota bene adalah Allah, memilih mengosongkan diriNya, menjadi serupa dengan manusia yang seharusnya tidak ada artinya dimata Allah (karena hanya debu tanah tadi).

Manusia seharusnya menjaga Roh Allah yang sudah ada di dalam dirinya. Namun sebaliknya, justru hidup manusia berlimang kebodohan, kedagingan dan dosa. Itu sebabnya Ia harus turun menebus anda dan saya. Bertolak belakang dengan manusia datang ke dunia untuk hidup, Yesus datang ke dunia untuk mati.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-104, tanpa penumpahan darah, tidak ada penebusan dosa! Ia yang seharusnya duduk bertahta di Kerajaan Surga, memilih turun ke dunia dan sengsara sampai mati di kayu salib semata-mata untuk umat manusia.

Masa Prapaskah sudah hampir selesai, bagaimana hidup refleksi batin kita? bagaimana pertobatan kita? Tuhan memberkati.

 

%d bloggers like this: