Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-351 dari 365 halaman dalam tahun.

 

….Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (Yesaya 61:1b)

 

Injil hari minggu ini memperlihatkan ketegasan dan kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Ia (walaupun tahu bahwa banyak orang memandang ia tinggi dan sebagai nabi), dengan tegas mengatakan ’Aku bukan Mesias’! (Yohanes 1:29). Dia tidak menjadi sombong, atau mengambil alih perhatian orang dan tetap pada tugasnya, yaitu menyiapkan jalan bagi Sang Putra, Yesus Kristus.

Saya pernah diskusi dengan satu teman pewarta soal sambutan umat kalau seorang pewarta datang, bukan mustahil terlalu berlebihan, terlebih kalau sang pewarta melakukan pelayanan ke daerah-daerah yang terpencil, ke luar kota dsb.

Dia pernah berkata, “Kan yang datang hamba Tuhan, FirmanNya juga jelas bahwa ‘Makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya (Lukas 10:7)’ Jadi wajarlah kita diperlakukan berbeda.” Namun kalau anda dan saya mengingat sabda Yesus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”

Bagi saya pribadi, lebih baik saya disambut sebagai saudara seiman, menunaikan tugas panggilan saya, dan menanti upah di Surga. Karena hanya 1 Guru kita, Sang Kristus, kita semua hanya murid dengan berbagai karunia titipan yang berbeda sesuai kehendakNya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-351, Anda dan saya diutus untuk melayani Dia, membagikan kabar gembiraNya dan memberikan penyemangatan kepada sekitar kita bahwa Ia adalah Sang Kristus, Mesias penyelamat dan pembebas dari segala keterikatan. Mari kita lakukan terus dengan penuh sukacita dan penuh ketaatan, jangan sekali-kali merusaknya dengan mencoba mengambil alih kemuliaanNya demi kepentingan pribadi kita.

Hari raya Natal semakin dekat. Semoga di akhir masa Adven ini kita makin menyadari, siapa sesungguhnya yang kita layani. Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: