Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-77 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yohanes 12:24)

 

Kata-kata Yesus tentang biji gandum yang jatuh ke tanah, mati kemudian tumbuh dan menghasilkan buah sudah begitu jelas bagi kita. Yesus yang dipermuliakan harus melewati tahap-tahap penderitaan, kematian, kemudian mendapat kemuliaan-Nya melalui kebangkitan-Nya. Yesus menang atas maut, dan kita dimenangkan oleh-Nya dari dosa dan ditebus dari cengkeraman si jahat.

Itu semua peran Yesus bagi kita. Tapi apa peran kita yang dapat kita lakukan bagi kemuliaan Allah selagi kita hidup di dunia ini? Kematian apa yang harus kita alami sehingga kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah?

Beberapa anak muda yang baru selesai mengikuti SHBDR (Seminar Hidup Baru Dalam Roh), bertekad melakukan sesuatu bagi kemuliaan Allah. Mereka berkumpul setiap sore, membaca kitab suci, berdoa pribadi, berdoa bersama, ke gereja bersama, serta rutin menerima sakramen tobat. Mereka hidup dalam suasana kekeluargaan, milik mereka adalah milik bersama seperti layaknya gereja perdana.

Mereka mengajak teman-teman mahasiswa/i bergabung dengan mereka dalam acara persekutuan doa. Ternyata perjuangan mereka membuahkan hasil, makin banyak anak muda yang datang karena merasakan sesuatu yang lain, mereka mengalami pertumbuhan iman, lebih dekat dengan Tuhan, merasakan bahwa pujian penyembahan kelompok PD ini begitu hidup dan menyentuh jiwa mereka, banyak manifestasi Roh Kudus terjadi saat pendoaan.

Kelompok ini bertumbuh menjadi persekutuan doa yang punya reputasi di jakarta. Tapi dibalik semua keberhasilan itu, mereka berjuang dengan sangat serius, ada harga yang mereka bayar. Mereka mengalami kematian terhadap kesenangan hidup anak muda tetapi mereka mengimani bahwa ada kuasa Allah yang bekerja terhadap perjuangan mereka, doa mereka, puasa, dan kerendahan hati mereka, dan Tuhan melengkapi anggota team dengan karunia-karunia yang dibutuhkan dalam pelayanan mereka.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-77, kita telah memasuki masa prapaskah minggu ke 5. Marilah kita menyadari bahwa untuk bisa hidup di hadirat Allah, kita harus mengalami juga kematian demi kemuliaan Allah, mati terhadap dosa. Sudahkah kita mempersiapkan Paskah dengan menerima sakramen pengakuan dosa?

Selamat mempersiapkan paskah kali ini dengan mati terhadap dosa, berjuang mengikuti jalan Kristus, sehingga pada akhirnya kita memperoleh mahkota kebenaran yang dijanjikan-Nya.

%d bloggers like this: