GODLY SUFFERING

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-141 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat. 1 Petrus 3:17

 

Saat membaca, bacaan Injil hari ini langsung mengingatkan saya pada seorang tokoh masyarakat yang sedang heboh di Jakarta baru-baru ini. Ia mengabdikan dirinya demi membela rakyat miskin dan untuk membangun negara. Walau harus mengalami berbagai tekanan dari berbagai pihak, karena menolak kompromi dengan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Akhirnya beliau harus berkorban masuk ke penjara. Demikian juga ketiga anak dan istrinya juga harus turut menderita, menanggung akibat dari perbuatan baik suami/ayah mereka. Kita semua pasti tau siapa tokoh tersebut, siapa lagi kalau bukan Gubernur DKI Jakarta yang baru-baru ini ditangkap.

Kita sering berpikir perbuatan baik dan benar cuma bisa dilakukan dalam skala besar. Saat temanku ingin berbuat baik atau jujur, tak jarang malah diolok-olok oleh temannya. “Emangnya loe mau jadi santa, makanya buat baik begitu?” kira-kira seperti itu. Seakan-akan perbuatan baik itu adalah tabu. Dunia sekarang memang sudah bertolak belakang. Apa yang benar bisa dianggap salah, juga sebaliknya.

Satu contoh sederhana lagi yang menggambarkan ayat tersebut. Saya punya seorang saudara, sebut saja namanya Ava. Beberapa tahun yang lalu Ava sempat kuliah di UNSW Sydney. Namun karena satu dan lain hal Ava dan suami harus pulang ke Jakarta untuk bekerja pada ayahnya. Singkat cerita Ava dan suaminya tak cocok kerja bareng orang tuanya. Mereka banyak bertengkar. Namun sebagai anak, ia harus hormat kepada orang tua. Walau menderita, Ava tetap berusaha bertahan, bahkan mengasihi ayahnya bertahun2 lamanya. Sekarang ini ayahnya sakit-sakitan, Ava tak membalas perbuatan ayahnya, malah membantu membiayai bahkan melayani ayahnya yang sakit.

Di renungan harian Katolik halaman ke-141 ini, apabila kita berbuat baik/benar atau ingin mengasihi seseorang, memang sering disertai dengan pengorbanan (bahkan penderitaan). Tapi seperti yang Mother Theresa katakan “People are often unreasonable, irrational, and self-centered. Love them anyway.” Sebab memang lebih baik menderita karena berbuat baik. Selamat hari minggu, Tuhan memberkati

%d bloggers like this: