Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-27 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.” (1 Korintus 12:24b-25)

 

Tuhan sangat luar biasa memberikan kita perumpamaan tubuh manusia sebagai gambaran kesatuan Dia & gerejaNya serta kita sebagai anggota Gereja yang sangat berhubungan & bergantung/membutuhkan satu sama lain.

Saya jadi teringat saya pernah mengalami konstipasi (kesulitan BAB) yang sangat luar biasa selama beberapa hari (tidak terbayang kalau ada yang sampai harus mengalaminya berminggu-minggu). Luar biasa ga enaknya dan sangattt mengganggu (ga cuma aktivitas saja, tapi juga seluruh keberadaan/konsentrasi saya ). Ga bisa tidur, ga bisa mikir, ga bisa makan (karena saya takut kalau saya makan & ntar ga bisa dibuang berarti perut saya akan semakin ga enak) dan saat itu semua perhatian tertuju kepada “bagaimana caranya supaya usus & rekan2 kerjanya ini bisa kembali berfungsi normal.” Ketika akhirnya kesulitan ini bisa diatasi, tidak cuma mulut yang berseru “Puji Tuhan”, namun saya bisa merasakan  kelegaan & sukacita yang luar biasa di seluruh tubuh saya.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-27 ini, mari kita tengok kiri kanan kita, siapakah sodara/i kita yang saat ini sedang mengalami “kesakitan” (tidak cuma tubuh jasmani, namun jiwa & rohnya juga sedang terluka) yang memerlukan pertolongan & perhatian kita? Sebagai bagian dari anggota tubuhNya, mungkinkah kita bisa hanya melihat & membiarkan atau malah mengutuki keadaan itu?

“Biarlah kiranya Roh Tuhan yang ada padaKu, yang telah mengurapi aku,  menuntun aku dalam memenuhi panggilan hidupku” 🙏🏻

%d bloggers like this: