Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-210 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yohanes 6:11)

 

Saat membaca cerita Injil hari ini, apa sih yang langsung menarik perhatian kita? Mungkin yang pertama-tama adalah Tuhan Yesus yang begitu keren, bisa melipatgandakan roti dan ikan. Tidak heran pengikut Tuhan Yesus banyak luar biasa. Kalau lapar, dikasi makan sepuasnya gratis. Kalau sakit, bisa langsung sembuh dan gak bayar. Mungkin kalau sedikit lebih komersial, Tuhan Yesus dan para muridnya bisa jadi konglomerat.

Sisi lain cerita luar biasa Tuhan Yesus hari ini, penggandaan roti dan ikan memberikan gambaran bagaimana Tuhan Yesus, semasa hidupnya senantiasa membagikan diri-Nya bagi orang-orang yang percaya kepadaNya, supaya orang-orang yang menerima, dapat hidup bahagia, sejahtera dan bergembira.

Puncak dari penyerahan diri Tuhan Yesus adalah di kayu salib, yang selalu kita kenang setiap minggu. Saat merayakan Ekaristi, kita tak lagi menerima roti biasa, namun benar-benar tubuh dan darahNya yang ia persembahkan bagi kita. Ia memberikan seluruh hidupNya bagi orang-orang yang percaya.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-210 ini, untuk kita yang telah sering menerima roti tubuh Kristus, sekarang giliran kita untuk memberikan diri kita atau apa yang kita miliki untuk membantu orang-orang yang miskin dan tak mampu.

Bacaan pertama juga menulis “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2).

Apabila kita memberi untuk membantu, kita tak perlu takut akan kehabisan. Tuhan Yesus dan para murid saat membagi-bagikan, yang tersisa malah lebih banyak dari yang awalnya mereka miliki (Matius 14:20)

%d bloggers like this: