Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-337 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Aku, Paulus, senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu, atas kasih karunia Allah yang dianugrahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. (1 Korintus 1:4)

 

Kebiasaan Rasul Paulus membuka kata-katanya dengan ucapan syukur bukan sekedar basa-basi saja. Dia yang bukan murid Yesus yang selalu menyertai perjalanan dan pelayanan Yesus, sangat menghayati rasa syukur kalau dia bisa mewartakan kabar baik dan ajaran Yesus.

Seorang teman kerja, katakan saja bernama Herman, dalam hidupnya selalu mengalami ketidakpuasan. Dalam keluarganya Herman adalah anak tertua dari 2 adiknya laki-laki. Herman selalu mengeluh bahwa kedua orangtuanya lebih mengasihi kedua adiknya. Di tempat kerja, rekan kerjanya dianggap sebagai saingan, Herman selalu membandingkan pendapatannya dengan teman-temannya. Herman selalu menuntut atasannya bila teman kerjanya mendapat fasilitas. Istrinya pun akhirnya meninggalkan dirinya karena tidak tahan melihat perilaku Herman.

Seorang yang hidupnya bahagia adalah orang yang bisa bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan bagi dia. Orang tipe ini banyak melihat ke bawah karena banyak orang mengalami keadaan yang tidak seberuntung dia. Dan dia mau berbagi dengan orang yang tidak seberuntung dia, kebahagiaan akan muncul bilamana orang mau berbagi dengan orang lain.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-337 ini, Rasul Paulus juga mengajak kita semua untuk mau bersyukur atas apa yang sudah kita terima. Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai, begitu besar kasih-Nya, begitu Indah janji keselamatan-Nya, begitu Mulia pengorbanan-Nya.
Apalagi yang kita tunggu? Kita yang sudah diberi pengetahuan tentang rahasia kerajaan surga, marilah kita mulai melangkah untuk menjalankan perintah-Nya untuk saling mengasihi. Tuhan Yesus akan selalu membimbing kita, Dia akan meneguhkan kita sampai kesudahannya, sampai kepada persekutuan dengan-Nya.

%d bloggers like this: