Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-97 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang. (Yohanes 8:11)

 

Dekat-dekat ini ada sebuah negara kecil di Asia Tenggara yang menjadi sorotan dunia. Kenapa? Karena raja di negeri tersebut menetapkan peraturan hukuman mati dengan dilempar batu untuk orang-orang yang berzinah dan juga pada kaum LGBTQI (yaitu lesbian, gay, bisex, transex, queer maupun intersex). Hukuman itu ditetapkan oleh karena alasan agama walaupun sebenarnya hanya untuk menekankan kekuasaan si raja.

Membaca ayat hari ini apakah berarti orang-orang di negara itu tidak pernah berbuat salah sama sekali?

Sayangnya peraturan yang dibuat sering kali bukan untuk melindungi tapi merugikan rakyat kecil, yang tidak punya uang, power atau koneksi yang bisa meloloskan mereka dari hukum. Sementara orang yang berkuasa bisa bebas berkeliaran. Tak tertutup kemungkinan diantara orang-orang yang mau melempari si wanita di bacaan hari ini juga pernah berzinah.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-97, buat kita yang memegang kekuasaan jangan sampai kita meng-abuse kekuasaan yang diberikan. Tantangan kita sebagai orang Katolik justru untuk saling memaafkan.

Tuhan Yesus sendiri tidak akan menghukum (bacaan Injil Yohanes 8:11) dan Ia tak akan mengingat-ingat kesalahan kita yang lalu (bacaan pertama Yesaya 43:18) dengan harapan selama masih hidup kita masih bisa bertobat.

Masa PraPaskah adalah masa tepat buat anda dan saya untuk belajar untuk tak saling menghakimi dengan menuruti ajaran Tuhan Yesus hari ini.

%d bloggers like this: