Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-100 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yohanes 8:36)

 

Hari Minggu kemarin kami makan di sebuah restoran Thai. Setelah selesai makan, nampak anak-anak berkumpul di depan pintu masuk melihat seekor anak anjing yang diikat selagi pemiliknya makan. Anak anjing ini tidak bisa lari kemana-mana karena dikekang tali. Ia tidak bisa menjauh dari majikannya meskipun ia mau.

Kata “hamba” di bacaan hari ini sama dengan kata “budak.” Seperti anak anjing di atas, seorang hamba terikat oleh majikannya. Biasanya kita berpikir kalau seorang hamba dipaksa oleh yang berkuasa, seperti raja Nebukadnezar berusaha memaksa Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk menyembah dewa-dewa selain Tuhan.

Akan tetapi, konsep ‘dipaksa menjadi hamba’ ini salah. Manusia punya pilihan apakah ia mau diperhambakan atau tidak. Ketiga hamba Tuhan di bacaan pertama menolak diperbudak, meski dalam ancaman maut.

Kita semua punya pilihan dalam hidup sehari-hari apakah mau jadi hamba dosa atau tetap setia. Tuhan Yesus lewat pengorbananNya sudah membebaskan kita dan belenggu dan keterikatan dosa. Ia memotong tali yang mengikat kita dari dosa dan maut.

Marilah di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-100 ini kita menyadari kembali kebebasan yang sudah Ia berikan ini dan berusaha kembali untuk mengalahkan dosa-dosa yang masih menjauhkan kita dari Tuhan.

 

 

%d bloggers like this: