Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-16 dari 365 halaman dalam tahun 2019.

 

Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. (Ibrani 2:17)

 

Suatu waktu ada satu keluarga yang berasal dari negeri seberang. Anak mereka mengalami banyak masalah di sekolah sampai tidak mampu sekolah karena terlalu stress. Orang tuanya tidak tahu cara menghadapi anak mereka dan banyak konflik terjadi. Orang sekitar mereka mencoba memberi nasihat tapi keluarga ini sulit menerima, sampai suatu waktu mereka bertemu seseorang yang berasal dari negeri yang sama dan bicara bahasa yang sama. Kedua orang tua bisa lebih menerima dan mendengar nasihat kawan sebangsa. Akhirnya keluarga ini mulai bisa mengubah keadaan dan masalah yang ada dan si anak bisa kembali ke sekolah.

Memang manusia terkadang sulit menerima nasihat (kebenaran) meskipun sudah jelas diberikan orang lain. Salah satu penghalang kita mendengar adalah jika kita berpikir orang yang menyampaikan itu sungguh berbeda dari kita. Sering pesan yang mau disampaikan itu tidak sampai tujuannya karena si pendengar terlebih dulu menilai sumber pesan dan menutup telinga dan hati.

Yesus tahu kecenderungan manusia, oleh sebab itu Ia turun ke dunia sebagai manusia supaya Ia menjadi sama dengan kita. Semua ini dilakukan untuk memberitakan Injil hidup dan supaya kita lebih bisa mendengarNya.

Di sisi lain, refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-16 ini juga mau mengingatkan kita supaya sadar akan kecenderungan kita menilai si pembicara. Mari kita coba mendengar pesan yang disampaikan, jangan hanya siapa yang menyampaikan, supaya kita tidak melewatkan pesan Tuhan yang Ia hendak berikan bagi kita.

%d bloggers like this: