Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-107 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” (Matius 26:18)

 

Yesus sangat tahu bahwa hampir tiba saatnya Ia menggenapi banyak nubuat tentang diri-Nya yang akan menderita dan wafat untuk keselamatan umat manusia. Ia, yang bukan hanya 100% Allah, tetapi juga 100% manusia, juga punya kehendak bebas, namun Ia memilih untuk patuh kepada kehendak Bapa yang tidak menghendaki manusia ciptaan-Nya antri menuju maut.

Yesus tidak maju terpaksa, Ia mau atas kehendak-Nya sendiri membaharui Paskah dari zaman Musa, menjadi perjanjian yang baru antara Allah dan manusia.

Hari ini Indonesia pun akan dan bahkan sedang memilih. Satu bangsa akan menentukan arah dan masa depan negara melalui sebuah pesta demokrasi. Kebanyakan dari kita pun punya hak untuk menyuarakan pilihan kita masing-masing tanpa tekanan dari pihak luar.

Kehendak bebas yang Tuhan berikan bukanlah untuk memilih sesuka hati, tetapi untuk memilih apa yang benar di hadapan Allah. Seperti Yesus memilih bukan untuk kepentingan kemanusiawian-Nya, yaitu mempertahankan hidup-Nya, Ia memilih untuk kepentingan seluruh bangsa, bahkan untuk kepentingan seluruh umat manusia, walaupun pilihan itu berarti Ia harus mengorbankan diri-Nya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-107 mengajak kita untuk mengingat kembali anugerah Tuhan akan kehendak bebas manusia. Kita punya pilihan untuk menggerutu atau bersyukur, melanggar atau mengikuti perintah, terus berdosa atau bertobat. Marilah kita memilih apa yang benar di mata Allah. Semoga Roh Kudus membimbing kita untuk menentukan pilihan-pilihan kita hari ini.

%d bloggers like this: