EMAUS: PERJALANAN YANG MEMBANGUN KARAKTER

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-109 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?” Luk 24:18

“Gak penting ah” celetuk temenku kepada suaminya, saat ia ditanya apakah ia akan berpuasa/pantang selama Paskah atau tidak. Suaranya pelan sekali. Mungkin ia gak sadar bahwa aku tidak sengaja mendengarnya, namun suaminya cuma tersenyum saja ke saya. Padahal temanku adalah seorang aktifis di sebuah komunitas rohani. Setelah usut punya usut, ternyata temenku itu sedang ada banyak beban financial. Gak heran ia akhirnya berkecil hati, takut dikecewakan dan merasa sudah gak penting lagi untuk ikut serta dalam puasa/pantang selama PraPaskah..

Perasaan frustasi yang sama juga dirasakan oleh Cleopas dan temannya. Mereka mungkin kecewa karena Tuhan Yesus yang mereka kagumi telah meninggal. Namun Tuhan Yesus dengan keras menegor mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu”. Dan ketika Tuhan Yesus muncul diantara mereka, menjelaskan tentang Kitab Suci dan memecah-mecahkan roti, maka mereka kembali *percaya*, dan hati mereka kembali berkorbar2.

Di halaman ke-109, saya percaya jalan menuju Emaus adalah jalan yang harus dilalui oleh setiap murid, to become a better Christian. Ada satu alasan kenapa cuma salah satu murid (yaitu Cleopas) yang namanya dituliskan, namun teman seperjalanannya tak dituliskan namanya. Murid yang tak dituliskan namanya itu adalah simbol dari kita semua, para murid yang mungkin mengalami kekecewaan, frustasi dalam perjalanan.

Sayapun sangat sering mengalami hal yang sama, frustasi krn ada keinginan yang belum tercapai walaupun sudah berdoa. Namun kepada kita semua yang mengalami hal tersebut, semoga hari ini kita kembali diingatkan, kembali diberi semangat agar tetap percaya. Tuhan Yesus hari ini memberi resep kepada Cleopas dan kita semua agar kembali semangat. Jadikan Sakramen Ekaristi dan Kitab Suci menjadi pusat kehidupan kita. Saat hidup iman terasa lemah, frustasi, lesu, terasa berbeban berat, maka carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu (Mzm 105:3-4) maka Ia akan dengan senantiasa memberikan kelegaan bagi siapapun yang datang kepadaNya.

%d bloggers like this: