Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-23 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Kemudian kata-Nya kepada mereka: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. (Markus 3:4)

 

Bacaan Injil hari ini memaparkan kisah yang terjadi di dalam rumah ibadat.

Orang-orang Farisi menggunakan keahlian mereka dalam hukum Taurat untuk menghakimi sesama, yang pada kesempatan ini adalah Yesus sendiri. Aturan, kalau tidak dipahami secara benar, dapat menjadi bumerang sehingga bukannya kebaikan yang terjadi, melainkan kerusakan.

Yesuslah sang kebenaran sejati, Ia selalu mengajarkan kebenaran-Nya kepada kita baik secara langsung: suara Tuhan, Roh Kudus; maupun secara tidak langsung: Kitab Suci, magisterium, tradisi, romo, orang tua, teman, bahkan melalui orang yang tidak kita kenal.

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah berita menyedihkan, yaitu seorang bayi meninggal karena kelaparan. Bayi ini diberi ASI eksklusif karena memang banyak anjuran bahwa ASI ekslusif itu baik. Tetapi ternyata ASI ibu ini tidak cukup banyak, dan “anjuran” tersebut diterimanya sebagai satu2nya pilihan hingga tidak ada top up dengan sumber lainnya seperti susu formula. Cerita ini adalah salah satu contoh dimana saat ajaran yang baik, jika tidak didasari pengertian yang benar, akan berakibat berbeda.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-23 mengajak kita untuk berkaca kembali, apakah kita bersandar pada hikmat dan pengertian manusia, ataukah kepada Tuhan? Apakah hati kita cukup terbuka untuk mendengar bisikan Roh Kudus? Apakah kita cukup rendah hati untuk dikoreksi saat kita dapati orang lain lebih benar?

%d bloggers like this: