BERKAT ANUGRAHNYA, AKU HIDUP

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-144 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, _tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” ( Bisa dibaca lengkap di Kis 17:15, 22 – 18:1 )

 

Pada masa awal-awal melayani Tuhan, saya sering terjebak pada suatu pemikiran bahwa ketika saya melayani Tuhan, ketika saya berdoa, atau ketika saya memberi persembahan, seolah-olah Tuhan yang butuh perhatian saya, waktu saya dan uang saya. Sehingga sering saya merasa pelayanan sebagai sebuah kewajiban atau tuntutan. Dan tidak jarang juga dengan pola pikir seperti ini, ketika sesuatu yang terjadi dalam hidup saya tidak seperti yang saya rencanakan, saya merasa kecewa karena Tuhan tidak menghargai usaha saya.

Dan bacaan hari ini adalah salah satu ayat yang mengingatkan saya bahwa “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.” (Kis 17: 28)

Baru keluar dari penjara, baru dianiaya, bukan sekali ditolak namun tidak membuat patah semangat Paulus & temannya, karena Paulus menyadari banget bahwa hidupnya adalah anugerah.. Yesus yang telah mengampuni, membebaskan dan memberi kesempatan baru untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan nya tanpa memperhitungkan dosa-dosanya.

Saya bersyukur lewat bacaan hari ini saya diingatkan kalau saya melayani, saya berdoa dan saya memberi persembahan semua karena Dia yang terlebih dahulu memberi saya hidup dan memberkati saya atas segala apa yang saya punya dan bisa nikmati. Dia memberi saya kesempatan untuk berpartisipasi dan bertumbuh menjadi muridNya. It’s a priviledge!

Di refleksi harian Katolik halaman ke-144 ini, teguran Paulus kepada orang-orang di Atena kiranya menyadarkan kita bahwa Allah yang kita sembah tidak berdiam di kuil-kuil buatan manusia, Dia bukan cuma Tuhan yang ada di dalam gereja atau persekutuan doa atau di KRK. Dia bukan Tuhan yang jauh, tapi Dia adalah Allah yang hadir dalam hati kita (walaupun masih penuh kotoran/dosa), Dia dekat dalam pergumulan kita ( rindu utk membantu kita dalam memanggul salib hidup ), Dia juga peduli pada usaha-usaha kita ( Dia turut bekerja dalam segala sesuatu di hidup kita untuk mendatangkan kebaikan ). Dia Allah yang mau dikenal dan sangat mengenal siapa kita. Alleluya!

%d bloggers like this: