Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-58 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Markus 9:40)

 

Saya mau mengajak kita membayangkan situasi berikut. Andaikan saja saat anda berjalan kaki ada seorang tua yang jatuh ke tanah dan terluka. Orang itu tak bergeming dan jelas butuh pertolongan. Anda berlari untuk menolong tapi tiba-tiba ada seorang pria berbadan besar menghalangi anda. Ia berkata “STOP! Kami dari kelompok keadilan sosial, kamu jelas-jelas bukan. Jangan coba-coba menolong orang ini karena itu tugas kami, hanya kami yang boleh menolong orang tua yang sakit! Pergi!

Apa reaksi anda jika dihadapi situasi diatas? Cukup ‘absurd’ bukan? Menariknya itulah pengalaman orang yang diusir oleh Yohanes di bacaan Injil di atas. Di jaman Yesus, orang2 Yahudi punya kepercayaan dan mentalitas yang tertutup. Dalam kepercayaan mereka, hanya merekalah bangsa yang terpilih untuk diselamatkan, Mesias tidak datang untuk orang-orang di luar kelompok mereka.

Akan tetapi kita tahu kalau Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang. Oleh sebab itu, Ia mengajar para muridNya hari ini suatu pesan kasih untuk punya mentalitas yang terbuka. Untuk Yesus, yang penting bukan apakah si orang yang berbuat baik itu adalah anggota suatu kelompok keagamaan atau tidak. Akan tetapi, apakah orang itu berbuat kebaikan selaras dengan yang harus dilakukan kelompok tersebut.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-58 ini kita diajak untuk meresapi pesan Yesus untuk berbuat kasih dan mengijinkan orang lain berbuat kasih. Kita selayaknya tidak bersikap eksklusif, tertutup atau malah menghalangi orang lain berbuat kebaikan. Melainkan kita diajak untuk mengenali perbuatan kasih dan bekerja sama dengan orang lain yang mungkin punya paham berbeda dengan kita untuk melakukan pekerjaan bagi Allah di dunia.

%d bloggers like this: