Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-332 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”  (Lukas 21:18-19)

 

Saat ini kita mungkin bisa merasakan relevansi dengan bacaan dalam injil hari ini. Perjuangan kita yang telah sampai bercucuran keringat & air mata, karena sudah cape-cape pelayanan, angkat-angkat alat musik, latihan sampai tengah malam, yang ada kita malah difitnah, tidak dihargai oleh sesama tim atau bahkan malah dibanding-bandingkan/diacuhkan oleh keluarga sendiri.

Atau mungkin selama ini untuk pergi ke gereja tantangan2 yang kita alami adalah seputar berjuang melawan malas, berjuang untuk melek & bangun pagi, berjuang dalam membagi waktu karena ada tugas sekolah & ujian, kena macet atau karena ga ada yang jemput/temenin.

Dan dimana di belahan dunia lain,  perjuangan yang dialami oleh banyak  saudara2 kita untuk pergi ke gereja adalah harus berjalan kaki sampai 10 km, atau harus ngumpet2 menghadiri misa karena mereka mungkin bisa dieksekusi/ditangkap karena keadaan negara yang tak mengijinkan mereka beribadah sebagai orang kristiani. Dan bahkan mereka yang melayani harus mengalami penganiayaan, bukan karena digosipin tapi karena mereka disiksa sampai bercucuran darah, bahkan sampai mati.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-332 ini, apapun bentuk perjuangan kita saat ini & dimanapun kita berada, apakah kesulitan-kesulitan yang kita harus jalani ini telah membuat kita “itung-itungan” dengan Tuhan dalam hal berdoa, datang ke misa & melayaniNya? Atau justru sebaliknya setiap tantangan & perjuangan ini membuat iman kita semakin kuat & teguh dalam mencari wajahNya, menantikan pertolonganNya dengan setia?

Tuhan, curahkanlah RohMu atas kami agar setiap perjuangan kami dalam mengikutiMu ini boleh semakin memurnikan hati kami & iman kami boleh terus bertahan sampai pada saat Engkau datang menjemput kami. 🙏🏻

%d bloggers like this: