Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-65 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Hari Rabu Abu

 

Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. (Yoel 2:13)

 

Sekali waktu saya kesal terhadap seseorang karena saya merasa ia mengatakan sori tanpa mengerti kesalahan apa yang ia perbuat, tanpa menunjukkan remorse, sehingga terkesan sori sebagai lip service.

Melalui peristiwa tersebut saya menjadi sadar bahwa seringkali demikian juga saya terhadap Bapa di sorga. Tanpa mengambil waktu untuk benar-benar duduk diam merenungkan pelanggaran-pelanggaran yang telah saya lakukan dan menumbuhkan niat untuk berubah, saya terlalu cepat bilang sori. ‘Sori’ tersebut bukannya untuk meminta pengampunan dan memperbaiki relasi yang retak, tetapi untuk memuaskan ego saya sendiri – yang penting plong lega.

Hari Rabu Abu menandai mulainya masa Prapaskah, liturgi gereja menggunakan lagu-lagu bernuansa berbeda, tidak ada madah kemuliaan, alleluia tidak lagi dinyanyikan.

Hari ini kita pun memulai masa pantang dan puasa. Tanpa memperbanyak doa dan amal kasih, yang jadi adalah diet, bukannya pantang puasa. Tuhan kita melihat ke kedalaman hati manusia, bukan hanya di permukaan. Karenanya, Ia menegur dalam bacaan Injil, mereka yang show off, melakukan kewajiban agama di tempat umum. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14b)

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-65 mengajak kita untuk tidak sekedar melakukan kewajiban agama. Sadarilah bahwa Allah itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Mari kita membulatkan tekad untuk bertobat: meninggalkan kehidupan dosa, mengarahkan hidup kita kepada Yesus; lalu melangkahkan kaki ke gereja dan menerima abu di dahi sebagai lambang pertobatan kita.

%d bloggers like this: