Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-221 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“‘Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.’ Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” (Mat 15:27-28)

 

Bagaimana reaksi pertama anda, apabila saat meminta bantuan, orang yang diminta malah memaki (maaf) “Anjing loe!”. Sejujurnya kalau saya, pasti akan marah dan berbalik berkata, “Emang situ siape?” dan pergi.

Memang ada berbagai reaksi orang pada saat ia menghadapi sebuah ujian (challenge), seringkali respon inilah yang menjadi penentu, apakah pada akhirnya kita bisa menggapai tujuan kita atau tidak.

Kira-kira inilah yang dapat kita lihat pada refleksi harian Katolik Epiphany hari ini. Di bacaan pertama, saat iman orang Israel ditantang karena mendengar berita bahwa tanah yang dijanjikan buat mereka penuh dengan orang-orang kuat (Bil 13:28), bahkan ada raksasa (ay 33), mereka menjadi kecut, dan akhirnya generasi itu tak dapat menikmati janji Tuhan.

Sebaliknya saat iman si wanita mendapat tantangan dengan dikatakan anjing, si wanita malah semakin merendahkan dirinya dihadapan Tuhan Yesus. Oleh karena respon si wanita yang luar biasa ini, ia akhirnya bisa mendapatkan berkat yang ia inginkan. Respon dia yang menjadi penentu. Apa yang akan terjadi kalau saat itu dia mundur?

Sebuah kejadian nyata. Istri dari teman saya, sebut saja namanya Annie. Suaminya terperangkap candu perjudian. Akhirnya rumah dan mobil terjual untuk menutupi hutang. Peristiwa ini benar-benar menguji iman mereka. Awalnya Annie marah sekali pada suaminya dan juga Tuhan. Tapi akhirnya ia lebih memilih untuk menyelamatkan keluarganya. Di dalam himpitan itu, Annie rutin pergi ke gereja dan minta didoakan. Ia juga perlahan mencoba bisnis kecil-kecilan dan hasilnya ditabung. Berkat ketekunannya, akhirnya bisa terkumpul lagi uang untuk keperluan keluarganya. Saat ini bukan cuma keluarga mereka yang dipulihkan, tapi juga keuangan mereka.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-221, apakah reaksimu saat imanmu sedang diuji? Apakah kita seperti bangsa Israel yang kecut lalu mundur? Atau seperti si wanita yang justru malah semakin merendahkan dirinya dihadapan Tuhan? Seringkali inilah yang menjadi penentu apakah pada akhirnya kita bisa mendapatkan berkat yang Tuhan janjikan atau tidak.

Ini yang menjadi berkat bagi kita orang Katolik. Selama kita tetap percaya pada kayu Salib Yesus, Ia tak akan pernah meninggalkan kita sendirian, namun tetap akan menemani dalam setiap challenge yang kita hadapi. Tugas kita adalah untuk tetap beriman. Apabila ditanya iman yang seperti apa? Ingatlah, kita hanya butuh iman sebesar biji sesawi.

%d bloggers like this: