Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-47 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. (Markus 8:2)

Pekan pertama bulan Februari ini keluarga saya masih berlibur di Indonesia, sedangkan saya sudah kembali ke Sydney. Pertama kalinya setelah 10 tahun saya seorang diri saja di rumah, detik jam terasa berjalan sangat lambat. Sering saya lupa waktu, karena terbiasa makan bersama, tapi kali ini sendirian saja jadi sesuka hati sendiri kapan dan makan apa. Terus terang mutu makanan berkurang jauh – memasak, membersihkan rumah ga kalah melelahkan dari pekerjaan kantor. Berbeda sekali dibandingkan dengan bulan Januari, saat itu saya juga masih liburan. Di kampung halaman, bersama ortu makanan terjamin, bahkan terbilang berlimpah karena saya sering jajan.

Mirip dengan kisah Adam yang harus berpeluh dan berusaha untuk bisa makan; kita manusia pun juga harus melakukan yang sama. Rasul Paulus juga mengatakan, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10b).

Dalam Injil hari ini, Yesus bukan hanya memberi makanan jasmani melalui mujizat penggandaan roti dan ikan, namun Ia juga memberi makanan rohani (Firman Allah) karena setiap manusia memerlukan keduanya, walaupun manusia umumnya kurang peka terhadap lapar rohani.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-47 ini mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang penuh belas kasih, dan juga Allah yang memenuhi segala yang kita perlukan. Mujizat Allah dapat turun melalui orang2 sekeliling untuk mencukupi keperluan kita. Apalah artinya 7 roti dan beberapa ikan bagi 4000+ orang?

Di tangan Yesus, tidak ada yang mustahil🙏. Jangan lupa berterimakasih pada mereka yang Tuhan pakai untuk menyediakan makanan bagi kita, dan mari buka diri kita untuk menjadi saluran berkat bagi sesama kita.

%d bloggers like this: