GOD TAKE PROMISES SERIOUSLY!

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-168 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”  (Mat 5:37)

 

Tentu sekilas ketika mendengar ayat di atas, kita berpikir “ngomong sih gampang tapi prakteknya itu loh.” Contoh: coba saat berhadapan dengan pacar/istri yang tiba-tiba bertanya “Sayang, saya gemukan ya?” Nah, pasti pasangannya langsung berkeringat dingin, “dijawab ya, nanti bete; dijawab tidak, juga belum tentu percaya” ☺. Atau kalau sedang berbicara dengan mertua atau bos, yang pertanyaannya kadang membuat kita serba salah/takut tersinggung. Mungkin pembaca refleksi harian Epiphany ada yang pernah memiliki pengalaman2 seperti ini juga 😅

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus ingin mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang setengah-setengah ( lain di mulut, lain di hati ) atau orang yang mengatakan sesuatu hanya untuk menyenangkan telinga si pendengar, adalah bukan sikap yang benar dan hal itu tidak berkenan di mataNya.

Mengapa demikian? Tuhan mengajak kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang tulus namun berani, walaupun mungkin resikonya dunia  mempertanyakan/menolak kita, atau banyak orang menjadi tidak suka dengan apa yang kita katakan. Tentu kita membutuhkan hikmat Tuhan sehingga kata-kata yang kita ucapkan tidak menyakiti orang atau lahir dari kepahitan.

Karena jika Ya, kita katakan Tidak, dan jg sebaliknya, bukankah berarti:

1. Kita sama saja telah berbohong ( apapun alasannya dan kita tahu siapa bapak pendusta itu )
Adakah di antara kita yang suka dibohongi?

2. Kita memberi celah untuk iblis hadir di hati/hubungan kita dengan orang tersebut.
Karena ketika kita berkata yang berbeda dengan kenyataan/kebenaran, dengan alasan tidak berani/khawatir orang yang mendengar tidak suka, tanpa kita sadari seringkali memberi peluang buat kita sendiri untuk berbicara di belakang orang tersebut ke orang lain ( bahasa kerennya: talk behind ). Bukankah ini memberi celah kepada dosa?

Mari kita renungkan melalui refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-168 ini,  kita adalah utusanNya. Kalau lewat hal-hal kecil saja kita tidak berani berbicara yang benar, apalagi ketika kita hrs memperkatakan hal-hal yang besar. Dibutuhkan iman untuk berkata kebenaran bukan?

Tuhan, kami mohon bimbinganMu selalu supaya kami memiliki hati yang tulus namun berani untuk berkata kebenaran, Amin 🙏

%d bloggers like this: