Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-61 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka” (Markus 10:14)

Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan cerita hari ini mengenai Tuhan Yesus memarahi para murid yang melarang anak-anak untuk datang kepadaNya. Oleh karena itu Gereja Katolik merasa sudah menjadi kewajiban kita semua untuk menerima dan melindungi anak-anak sehingga akhirnya mereka bisa tumbuh menjadi seseorang yang dewasa didalam iman kepada Tuhan Yesus.

Sayangnya dalam pengalaman saya pribadi, anak-anak yang masih kecil masih sering tidak diterima didalam komunitas Gereja. Mungkin karena mereka dianggap mengganggu. Kalau lagi menangis, atau lari-lari saat service sedang berlangsung, waduh ada banyak mata yang akan memandang dengan tak senang. “Siapa sih orang tuanya? Gak bisa ngajarin anak ya?” Apalagi kalau anak yang bersangkutan sakit berturut-turut, dan orang tua yang bersangkutan harus tinggal di rumah. Sayangnya orang tua yang malang tersebut bukannya dibantu, tapi harus siap-siap di-cap “gak punya commitment”.

Lebih sedih lagi kalau kita tak dapat melindungi anak-anak tersebut, misalnya dengan melukai mereka secara fisik atau emosi menyebabkan mereka tak mau percaya lagi kepada Tuhan sampai mereka dewasa. Maka kita sudah melakukan perbuatan yang sama sekali bertentangan kepada perintah Tuhan hari ini.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-61, bacaan pertama Sirakh mengingatkan tugas manusia adalah untuk memuji Tuhan (Sirakh 17:10). Menghalangi anak-anak, atau orang dewasa yang ingin datang ke komunitas atau ke gereja, sama saja melarang mereka untuk melakukan tugas mereka.

Saya teringat dengan seorang pastor di gereja di Sydney. Saat sedang misa berlangsung ada beberapa anak berlari2 dan nangis. Walaupun sebaiknya jangan demikian, tapi si pastor dengan lapang dada berkata: sudahlah biarin saja mereka demikian. Kalau kita menerima mereka saat ini, sampai dewasa mereka akan ingat bahwa mereka diterima oleh Gereja. Mencontoh si pastor, tugas kita adalah menerima mereka semua apa adanya, lengkap dengan kekurangan-kekurangan mereka.

%d bloggers like this: