Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-82 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. (Lukas 15: 32)

Minggu ini ada seorang bekas teman kerja saya yang mengontak bos untuk minta kerjaan lamanya. Ia sudah sekitar satu tahun keluar dari perusahaan, selama itu ia bekerja di dua perusahaan berbeda.

Awalnya ia keluar karena agak bosan dan mau cari pengalaman yang lebih baru dan menantang. Saat ditanya kenapa ia mau kembali, ia menjawab kalau ia sadar pekerjaan di perusahaan kami jauh lebih baik dalam segala hal dan ia mau ‘kembali pulang.’ Kami senang karena seorang kawan senior kembali, bos juga memberi dia kenaikan gaji.

Kisah tentang anak yang hilang tidaklah asing bagi kita. Mungkin kita juga pernah dalam posisi sebagai anak yang hilang karena terlena dalam dosa, jauh dari Allah.

Dosa dan dunia memang kadang menggiurkan. Sebagai manusia yang masih punya kedagingan, hal2 duniawi akan selalu menggoda, mengintip dan membayangi hidup kita. Kita bisa melenceng sedikit dari jalan Tuhan, bisa juga nyasar jauh banget. Kadang kita bisa cepat sadar dan bertobat, kadang mungkin butuh waktu dan teguran keras sebelum kita bisa kembali ke Tuhan.

Pesan di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-82 ini sungguh sederhana, Allah kita adalah pribadi yang Maha Kasih, yang mau mengampuni dosa kita dan rindu kita selalu berada di dalam kediamanNya. Ia bersukacita saat kita kembali. Ia juga tidak pasif menghiraukan kita bahkan saat kita jauh dariNya. Sebagai gembala yang baik, Ia akan selalu tetap menunggu, memberi ‘hint’ supaya kita kembali kepadaNya dan siap memeluk kita dengan sayang. Hanya ada satu syarat yang Ia harapkan dari kita, yaitu supaya kita sadar akan keberdosaan kita, mohon ampun dan berjalan kembali kepadaNya

%d bloggers like this: