Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-329 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup. (Lukas 20:38)

 

Ada satu kalimat yang selalu diucapkan dalam setiap misa requiem, “hidup ini tidak musnah tetapi diubah”. Kalimat ini dalam artinya, di mata Tuhan kehidupan itu kekal adanya. Adapun kematian adalah saat jiwa kita melepaskan diri dari tubuh, tetapi jiwa tetap hidup.

Pada hari minggu pastor yang memimpin ekaristi kotbah tentang perumpamaan hal kerajaan surga seperti talenta yang dititipkan seseorang kepada hambanya (Matius 25:14-30). Talenta disini artinya sesuatu yang berharga (1 talenta nilainya 15 tahun gaji seseorang saat itu), yang bisa dikembangkan. Pastor mengaitkan pada apa yang paling berharga dalam hidup manusia. Tubuh? Kekayaan? Semua itu akan ditinggal bila seseorang meninggal. Spiritualitas menjadi hal yang perlu diperhatikan, kesejahteraan jiwa perlu kita kembangkan (seperti talenta).

Sebuah ilustrasi menarik dalam kotbah tersebut. Ada seorang kaya mempunyai 4 orang istri. Saat orang kaya ini menjelang ajalnya, satu persatu istrinya ditanya mulai dari istri ke 4 apakah mau ikut menemaninya mati. Istri ke 4, 3 dan 2 menolak, bahkan menyatakan akan cari suami baru sepeninggal suaminya. Hanya istri pertama yang paling menderita yang setia dan bersedia ikut kalau suaminya mati. Istri pertama ini yang melambangkan jiwa kita, semua bisa ditinggalkan, tubuh, harta, keluarga, tetapi jiwa setia menemani kita.

Refleksi Harian Katolik Epiphany Halaman ke-329 ini mengajak kita untuk lebih memperhatikan kesejahteraan jiwa dan kehidupan spiritualitas kita. Mengembangkan talenta yang merupakan kesejahteraan jiwa yang tinggi nilainya diatas semua hal, sehingga di kemudian hari kita dapat mempertanggungjawabkan talenta kerohanian yang Tuhan titipkan pada kita. Karena jiwa kita adalah kekal, Tuhan kita adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Amin.

%d bloggers like this: