Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-301 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. (Lukas 6:12-13). Silakan baca selengkapnya bacaan hari ini dari Injil Lukas 6:12-19.

 

Rasul dari kata Yunani Apostello, yang berarti mengutus. Kata kunci dari kutipan Injil hari ini adalah “semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah, sebelum Ia menentukan ke 12 rasul dari antara pengikut-Nya“. Yesus berdoa agar Ia dibimbing Allah dalam menentukan pilihan-Nya. Sebab tugas para rasul sangat mulia menjadi saksi dan pewarta Kerajaan Allah.

Tapi bukankah Dia sendiri adalah Allah yang punya kuasa untuk menentukan keputusan itu? Di sinilah terlihat kepatuhan seorang Putra Allah pada Allah Bapa. Yesus juga memiliki prinsip bahwa: bukan kehendak-Ku yang terjadi tetapi kehendak Bapa.

Suatu kali saya mengikuti pemilihan pelayan (istilah buat pemimpin) di sebuah komunitas. Acara tersebut dimulai dengan pujian dan penyembahan, dilanjutkan mendoakan agar masing-masing peserta rapat diberikan rahmat untuk mengajukan satu nama yang akan diusulkan (bukan karena like or dislike, tapi muncul dalam suasana doa). Kemudian peserta berdoa lagi untuk memilih 3 nama. Dari 3 nama dengan suara terbanyak, nama-nama tersebut didoakan lagi supaya mendapat satu suara yang terbanyak.

Proses pemilihan ini disertai doa-doa yang merujuk pada arahan yang diberikan Yesus sendiri. Karena sebagai pelayan/pemimpin komunitas gerejani diperlukan kuasa Allah agar ia menerima urapan dari Allah sendiri, yang membuatnya bijaksana sebagai pemimpin dan mempunyai kemampuan menghadapi hambatan/halangan dalam menjalankan tugasnya. Tanpa kuasa Allah ini kadang dapat menyebabkan seorang pemimpin menyerah dalam tugasnya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-301 ini mengajak kita untuk membawa pilihan-pilihan dalam doa, mohon kuasa Allah campur tangan dalam mengambil keputusan. Pengambilan keputusan untuk memilih dari pilihan-pilihan yang kurang lebih sama baiknya akan menjadi lebih sulit dari pada pilihan-pilihan yang nyata bedanya. Sebuah discernment diperlukan untuk pengambilan keputusan atau arah yang perlu diambil dengan mengundang Roh Kudus untuk menguasai proses dari awal hingga akhir. “Tuhan sertailah kami selalu dengan kuasa Roh-Mu dalam kehidupan kami dan keputusan kami”.

%d bloggers like this: