Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-62 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” (Lukas 15:20)

 

Sebagai orang tua, kita tentu akan mengerti bagaimana perasaan sedih sang bapak dalam perikop “anak yang hilang” ini. Ketika orang tua kehilangan/ditinggal oleh anaknya, entah apapun alasan anaknya pergi atau umur berapapun anaknya ketika pergi, cinta orang tua kepada anak-anaknya tak akan pernah hilang dimakan waktu ataupun jarak yang terbentang.

Dan kita semua yang adalah juga sebagai anak, dengan bertambahnya kebutuhan, tuntutan hidup & penuhnya aktivitas kehidupan, tanpa disadari kita mungkin bersikap seperti si anak bungsu & anak sulung dalam cerita ini. Karena kita berpikir sudah selayaknya dong sebagai orang tua, mereka berkorban & berbuat ini dan itu untuk anaknya.

Apakah kita menjadi pribadi yang selalu menghitung untung ruginya ( karena saya sudah melakukan ini; harusnya saya mendapat ini juga ) atau apakah kita hanya datang mengunjungi/menelpon orang tua kita ketika kita sedang membutuhkan pertolongan mereka untuk menjaga anak, binatang peliharaan, atau memperbaiki sesuatu?

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-62 ini, sesungguhnya seberapa besarkah kita menyadari cinta Bapa di surga yang tak pernah padam & selalu rindu untuk merangkul kita walaupun kita seringkali melupakanNya, atau hanya menghampiriNya ketika sedang ada maunya atau mungkin ada masa-masa dimana kita ragu untuk menghampiriNya?

Mari kita memohon pimpinan Roh Kudus agar kita bisa bangkit meninggalkan hal-hal yang telah mengorbankan relasi kita denganNya dan berlari ke dalam pelukan kasihNya

%d bloggers like this: