Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-40 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Markus 6:34)

 

Sebuah film yang saya tonton tadi malam bercerita tentang seorang Katolik yang imannya goyah. Ia merasa kalau Tuhan membiarkan dirinya terluka dan menderita. Katanya dengan pahit, “Saya sekarang tahu muka Tuhan sebenarnya.”

Memang saat-saat sulit dalam hidup sering membawa perasaan marah, sedih, letih dan derita. Banyak dari kita juga merasa seolah-olah kita berjalan sendiri tanpa arah tujuan dan bagaikan tidak ada orang yang mempedulikan kita. Akan tetapi, saya melihat kalau sebagian orang di masa-masa sulit justru menghindar dari orang lain, menyendiri atau menolak bantuan dan perhatian dari orang lain.

Tokoh di film di atas juga seperti ini, setiap hari ia dikunjungi seorang suster dari gereja lokal yang mencoba menghiburnya, tetapi ia berkali2 menolak ajakan dan pertolongan yang diberi.

Bacaan di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-40 hari ini mau mengingatkan kita akan belas kasih Yesus kepada orang banyak. Seperti gembala yang baik, Ia ingin menunjukkan jalan yang benar, menghibur dan membawa kelegaan.

Apakah kita sadar akan kebenaran ini? Apakah kita bisa melihat cara-cara Tuhan mau mendekati dan menghibur kita di saat sulit? Mungkin Tuhan berbicara lewat orang lain, mungkin lewat kitab suci atau mungkin dari bisikan lembut di dalam hati. Janganlah kita putus asa atau pahit, melainkan bukalah hati dan pikiran kita akan belas kasih Allah yang selalu tersedia bagi umatNya yang percaya.

%d bloggers like this: